Jumat, 30 Januari 2026

Ketika Hormat Terkikis

Di ruang kelas yang dulu penuh senyum,

Kini terselip luka yang membisu,

Tangan yang seharusnya menulis cita,

Terangkat—memukul sang pemberi cahaya.


Apa yang telah pudar dari jiwa muda ini?

Rasa hormat yang dulu tegak berdiri,

Kini luruh seperti daun di musim kering,

Meninggalkan tangkai yang rapuh dan sepi.


Guru yang berdiri dengan sabar dan lelah,

Membawa ilmu di pundak yang membungkuk,

Kini harus menerima kepalan amarah,

Dari tangan yang ia coba untuk bentuk.


Bukan semata salah sang murid,

Bukan pula hanya guru yang lalai,

Ini cermin masyarakat yang sakit,

Dimana nilai-nilai telah tergerai.


Rumah yang tak lagi ajarkan budi,

Layar yang lebih keras dari bimbingan,

Tekanan yang membelit jiwa remaja,

Hingga amarah jadi satu-satunya jalan.


Namun masih ada harapan tersisa,

Untuk memulihkan yang telah retak,

Dengan dialog, empati, dan kasih sayang,

Kita rajut kembali benang yang putus.


Mari kita renungkan bersama,

Apa yang hilang dari pendidikan kita?

Agar ruang kelas kembali jadi taman,

Tempat hormat dan ilmu tumbuh bersama.


---

Puisi ini mencoba merefleksikan fenomena yang memprihatinkan terhadap kasus di sebuah sekolah di mana murid memukul gurunya sebagai masalah sistemik yang kompleks—melibatkan keluarga, pendidikan, dan masyarakat—sambil tetap menyisakan harapan untuk perbaikan.

Transformasi Peran Guru: Dari Pengajar Menjadi Fasilitator Kehidupan

Selama lebih dari satu dekade mengamati dunia pendidikan, saya menyaksikan perubahan fundamental dalam sikap murid dan bagaimana hal ini menuntut transformasi peran guru yang signifikan. Perubahan ini bukan sekadar soal metode mengajar, tetapi tentang bagaimana kita memahami esensi pendidikan itu sendiri.

Perubahan Sikap Murid: Apa yang Sesungguhnya Terjadi?

Murid-murid hari ini tumbuh di era digital yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka memiliki akses informasi tak terbatas di ujung jari mereka, membuat mereka lebih kritis dan cepat mempertanyakan hal-hal yang tidak masuk akal. Saya mengamati bahwa murid masa kini cenderung lebih vokal, berani mengekspresikan pendapat, dan tidak lagi menerima informasi secara pasif.

Namun di sisi lain, ada tantangan baru yang muncul. Rentang perhatian mereka lebih pendek, ketergantungan pada validasi instan meningkat, dan kemampuan untuk fokus pada tugas jangka panjang menurun. Mereka terbiasa dengan gratifikasi cepat yang ditawarkan media sosial dan game online, sehingga proses pembelajaran yang membutuhkan kesabaran dan ketekunan sering kali terasa membosankan.

Peran Guru di Sekolah: Lebih dari Sekadar Transfer Pengetahuan

Menghadapi realitas ini, guru tidak bisa lagi hanya berfungsi sebagai penyampai informasi. Peran kita harus berevolusi menjadi lebih kompleks dan bermakna. Di sekolah, saya melihat guru perlu menjelma menjadi beberapa sosok sekaligus.

Pertama, guru sebagai fasilitator pembelajaran. Alih-alih ceramah satu arah, kita perlu menciptakan lingkungan di mana murid aktif mengeksplorasi, berdiskusi, dan membangun pemahaman mereka sendiri. Metode pembelajaran berbasis proyek, diskusi kelompok, dan pembelajaran kolaboratif menjadi sangat relevan. Ketika murid diberi kesempatan untuk menemukan jawaban sendiri dengan bimbingan guru, pembelajaran menjadi lebih bermakna dan bertahan lama.

Kedua, guru sebagai pembimbing karakter. Di tengah arus informasi yang deras dan pengaruh media sosial yang kuat, murid membutuhkan kompas moral. Guru perlu menjadi role model dalam hal integritas, empati, dan tanggung jawab. Ini bukan tentang menggurui, tetapi tentang menunjukkan melalui tindakan nyata bagaimana nilai-nilai tersebut dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ketiga, guru sebagai motivator. Mengingat murid mudah kehilangan fokus dan motivasi, guru perlu kreatif dalam membangkitkan semangat belajar mereka. Ini bisa melalui penggunaan teknologi yang relevan, menghubungkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata mereka, atau memberikan ruang bagi minat dan bakat individual mereka untuk berkembang.

 Peran Guru di Rumah: Jembatan Antara Sekolah dan Keluarga

Yang sering terlupakan adalah peran guru yang melampaui dinding kelas. Di era di mana banyak orang tua sibuk bekerja, komunikasi antara guru dan keluarga menjadi krusial. Saya percaya guru perlu menjadi mitra orang tua dalam mendidik anak.

Ini bisa diwujudkan melalui komunikasi rutin tentang perkembangan murid, tidak hanya akademik tetapi juga sosial dan emosional. Teknologi seperti grup WhatsApp atau aplikasi khusus dapat dimanfaatkan, tetapi perlu digunakan secara bijak agar tidak membebani orang tua atau menciptakan kecemasan berlebihan.

Guru juga bisa memberikan panduan kepada orang tua tentang bagaimana mendampingi anak belajar di rumah. Banyak orang tua yang sebenarnya ingin terlibat tetapi tidak tahu caranya. Memberikan tips sederhana seperti menciptakan rutinitas belajar, membatasi penggunaan gadget, atau cara berkomunikasi efektif dengan anak dapat sangat membantu.


Solusi Praktis Menghadapi Tantangan

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan, ada beberapa solusi konkret yang dapat diterapkan. Pertama, guru perlu terus belajar dan beradaptasi. Mengikuti pelatihan tentang teknologi pendidikan, psikologi perkembangan anak, atau metode pembelajaran inovatif bukan lagi pilihan tetapi keharusan. Kita tidak bisa mengajar dengan cara lama untuk generasi yang baru.

Kedua, membangun hubungan personal dengan murid. Di balik perilaku yang kadang menantang, setiap murid memiliki cerita, kebutuhan, dan potensi unik. Meluangkan waktu untuk mengenal mereka secara individual, mendengarkan kekhawatiran mereka, dan menunjukkan bahwa kita peduli dapat membuat perbedaan besar dalam motivasi dan perilaku mereka.

Ketiga, menciptakan lingkungan belajar yang positif dan inklusif. Setiap murid harus merasa aman, dihargai, dan memiliki kesempatan untuk berkembang sesuai dengan kecepatan mereka sendiri. Ini berarti menghindari perbandingan yang tidak sehat, merayakan keberagaman, dan fokus pada kemajuan individual daripada kompetisi semata.

Keempat, melibatkan murid dalam proses pembelajaran. Berikan mereka pilihan dalam topik proyek, metode presentasi, atau bahkan aturan kelas. Ketika murid merasa memiliki kontrol dan suara dalam pendidikan mereka, keterlibatan dan tanggung jawab mereka meningkat.


Refleksi Penutup

Perubahan sikap murid adalah cermin dari perubahan zaman. Sebagai guru, kita dihadapkan pada pilihan: menolak perubahan dan bertahan pada cara lama, atau merangkul transformasi dan tumbuh bersama murid-murid kita. Saya memilih yang kedua, karena saya percaya bahwa pendidikan yang sesungguhnya bukan tentang mengisi kepala kosong dengan informasi, tetapi tentang menyalakan api keingintahuan dan membentuk karakter yang akan membawa mereka melewati tantangan masa depan.

Peran guru memang semakin kompleks dan menantang, tetapi juga semakin bermakna. Kita bukan hanya membentuk masa depan individu, tetapi masa depan masyarakat. Dan dalam perjalanan ini, kita sendiri terus belajar, tumbuh, dan menemukan makna baru dalam profesi mulia ini.

TikTok dan Media Sosial: Dua Sisi Mata Uang di Era Digital

Media sosial telah mengubah cara kita berkomunikasi, menghibur diri, dan bahkan bekerja. TikTok, sebagai platform yang paling fenomenal dalam beberapa tahun terakhir, bersama Instagram, Facebook, Twitter (X), dan YouTube, kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat modern. Namun seperti pisau bermata dua, kehadiran media sosial membawa dampak positif sekaligus negatif yang perlu kita pahami bersama.


Dampak Positif: Peluang di Balik Layar

1. Kreativitas Tanpa Batas

TikTok telah membuka pintu kreativitas bagi jutaan orang. Siapa sangka video 15 detik bisa mengubah hidup seseorang? Banyak kreator konten yang lahir dari platform ini, menunjukkan bakat mereka dalam menari, memasak, mengedit video, atau sekadar berbagi cerita inspiratif. Platform ini demokratis—siapa pun bisa viral, tidak peduli latar belakang atau modal yang dimiliki.

2. Peluang Ekonomi Baru

Media sosial telah menciptakan profesi baru: content creator, influencer, social media specialist. Banyak pelaku UMKM yang merasakan manfaat langsung dengan memasarkan produk mereka secara digital. Seorang penjual kue rumahan bisa menjangkau ribuan pembeli potensial hanya dengan satu video viral. Generasi muda pun menemukan cara menghasilkan uang dari hobi mereka.

3. Edukasi yang Menyenangkan

Tidak semua konten di media sosial adalah hiburan semata. Banyak akun edukatif yang menyajikan pengetahuan dengan cara yang menarik dan mudah dipahami, mulai dari tips kesehatan, tutorial bahasa asing, hingga penjelasan sains kompleks dalam format pendek yang menghibur.

4. Membangun Komunitas

Media sosial menghubungkan orang-orang dengan minat yang sama, terlepas dari jarak geografis. Komunitas hobi, support group untuk berbagai kondisi kesehatan, hingga gerakan sosial—semuanya bisa tumbuh dan berkembang melalui platform digital.


Dampak Negatif: Tantangan yang Harus Diwaspadai

1. Kecanduan dan Produktivitas

"Scroll sebentar" yang berujung berjam-jam adalah cerita yang terlalu familiar. Algoritma media sosial dirancang untuk membuat kita terus menonton, dan ini bisa sangat adiktif. Banyak orang kehilangan waktu produktif, bahkan mengabaikan tanggung jawab karena terlalu asyik dengan konten yang tidak ada habisnya.

2. Kesehatan Mental Terancam

Budaya membandingkan diri dengan orang lain di media sosial bisa merusak kesehatan mental. Melihat highlight reel kehidupan orang lain sering membuat kita merasa tidak cukup baik. Riset menunjukkan korelasi antara penggunaan media sosial berlebihan dengan meningkatnya kecemasan, depresi, dan rendahnya harga diri, terutama di kalangan remaja.

3. Penyebaran Informasi Salah**

Hoaks dan misinformasi menyebar lebih cepat daripada kebenaran di media sosial. Dari kesehatan hingga politik, informasi yang tidak terverifikasi bisa mempengaruhi keputusan penting masyarakat dan bahkan membahayakan nyawa.

5. Privasi dan Keamanan Data

Banyak pengguna tidak menyadari berapa banyak data pribadi yang mereka bagikan secara tidak langsung. Data ini bisa disalahgunakan untuk berbagai kepentingan, dari iklan yang invasif hingga penipuan digital.

6. Cyberbullying dan Konten Negatif

Anonimitas dan jarak digital membuat sebagian orang merasa bebas untuk berkomentar jahat atau melakukan perundungan. Konten negatif, kekerasan, atau tidak pantas juga mudah diakses, termasuk oleh anak-anak.


Solusi: Menjadi Pengguna Media Sosial yang Bijak

1. Tetapkan Batasan Waktu

Gunakan fitur screen time atau timer untuk membatasi penggunaan media sosial. Tentukan waktu khusus untuk scrolling dan patuhi aturan tersebut. Banyak smartphone kini memiliki fitur digital wellbeing yang bisa membantu Anda melacak dan mengontrol penggunaan aplikasi.

2. Kurasi Konten yang Dikonsumsi

Ikuti akun-akun yang memberikan nilai positif dan inspirasi. Jangan ragu untuk unfollow atau block akun yang membuat Anda merasa buruk tentang diri sendiri. Algoritma akan menyesuaikan dengan preferensi Anda, jadi pilihlah dengan bijak konten apa yang ingin Anda lihat.

3. Verifikasi Sebelum Menyebarkan

Sebelum membagikan informasi, luangkan waktu untuk memverifikasi kebenarannya. Cek sumber, cari referensi lain, dan gunakan situs fact-checking. Jangan menjadi bagian dari penyebaran hoaks.

4. Prioritaskan Interaksi Nyata

Media sosial seharusnya melengkapi, bukan menggantikan, interaksi tatap muka. Pastikan Anda tetap menjaga hubungan dengan keluarga dan teman di dunia nyata. Jadwalkan quality time tanpa gadget.

5. Edukasi Digital untuk Semua Usia

Orang tua perlu aktif mendampingi anak-anak dalam menggunakan media sosial. Sekolah juga sebaiknya memasukkan literasi digital dalam kurikulum. Pemahaman tentang privasi, etika digital, dan critical thinking sangat penting.

6. Gunakan untuk Hal Produktif

Manfaatkan media sosial untuk belajar skill baru, mengembangkan bisnis, atau membangun jaringan profesional. Jadikan platform ini alat untuk berkembang, bukan hanya untuk konsumsi pasif.

7. Jaga Kesehatan Mental

Jika merasa media sosial mulai mempengaruhi kesehatan mental Anda secara negatif, jangan ragu untuk mengambil jeda atau digital detox. Konsultasikan dengan profesional jika diperlukan.

8. Laporkan Konten Berbahaya

Jika menemukan konten yang melanggar, mengandung ujaran kebencian, atau membahayakan, laporkan ke platform. Kita semua bertanggung jawab menjaga ekosistem digital yang sehat.


 Kesimpulan

Media sosial dan TikTok bukanlah musuh yang harus dihindari, tetapi juga bukan teman yang bisa kita percayai sepenuhnya tanpa kewaspadaan. Seperti teknologi lainnya, dampaknya sangat bergantung pada bagaimana kita menggunakannya. Dengan kesadaran, batasan yang jelas, dan pendekatan yang seimbang, kita bisa menikmati manfaat positif media sosial sambil meminimalkan risiko negatifnya.

Kuncinya adalah menjadi pengguna yang aktif dan kritis, bukan konsumen pasif yang terhanyut arus. Mari kita ciptakan budaya digital yang sehat, di mana media sosial menjadi ruang untuk berkembang, terhubung, dan menginspirasi, bukan sumber kecemasan dan perpecahan. Dunia digital ada di tangan kita—gunakanlah dengan bijak.

Kokurikuler: Solusi Alternatif Pengganti Projek Profil Pelajar Pancasila

 Pendahuluan

Sejak diberlakukannya Kurikulum Merdeka, Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) menjadi salah satu program unggulan yang bertujuan membentuk karakter peserta didik sesuai nilai-nilai Pancasila. Namun, dalam implementasinya, banyak sekolah menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan waktu, sumber daya, hingga kesulitan dalam perencanaan dan penilaian. Muncul pertanyaan: dapatkah kegiatan kokurikuler menjadi alternatif yang efektif untuk menggantikan atau melengkapi P5?

Artikel ini mengeksplorasi potensi kokurikuler sebagai wadah pembentukan profil pelajar Pancasila, dengan menelaah kelebihan, kekurangan, serta strategi implementasinya.

Projek Profil Pelajar Pancasila dirancang sebagai pembelajaran lintas disiplin untuk mengamati dan memikirkan solusi terhadap permasalahan di lingkungan sekitar. P5 mengusung enam dimensi profil pelajar Pancasila: beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.

Di sisi lain, kegiatan kokurikuler adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk memperkuat atau menunjang kegiatan intrakurikuler, yang bertujuan mengembangkan bakat, minat, dan kepribadian peserta didik. Kegiatan ini mencakup Pramuka, PMR, Paskibra, kegiatan kesenian, olahraga, jurnalistik, dan lainnya.

Kedua program ini memiliki benang merah yang sama yaitu pengembangan kompetensi di luar pembelajaran akademik reguler, namun dengan pendekatan yang berbeda.

Mengapa Kokurikuler Berpotensi Menggantikan P5?

1. Struktur yang Sudah Mapan

Kegiatan kokurikuler telah lama menjadi bagian dari ekosistem pendidikan Indonesia. Sekolah umumnya sudah memiliki struktur organisasi, pembina, jadwal, dan mekanisme pelaksanaan yang jelas. Tidak seperti P5 yang relatif baru dan masih dalam tahap penyesuaian, kokurikuler memiliki fondasi yang kuat untuk dikembangkan.

2. Pembelajaran Kontekstual dan Berkelanjutan

Kokurikuler memberikan pengalaman belajar yang kontekstual melalui praktik langsung dan berkelanjutan sepanjang tahun ajaran. Misalnya, melalui Pramuka, siswa belajar kemandirian, gotong royong, dan kepemimpinan secara konsisten. PMR mengajarkan kepedulian sosial dan empati. Kegiatan-kegiatan ini tidak bersifat sementara seperti projek, melainkan proses pembentukan karakter jangka panjang.

3. Fleksibilitas dan Diferensiasi

Kokurikuler memungkinkan siswa memilih kegiatan sesuai minat dan bakat mereka, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna. Diferensiasi ini sejalan dengan prinsip Kurikulum Merdeka yang mengutamakan pembelajaran berpusat pada peserta didik.

4. Efisiensi Waktu dan Sumber Daya

Mengintegrasikan tujuan P5 ke dalam kokurikuler dapat menghemat waktu yang biasanya dialokasikan khusus untuk projek. Sekolah tidak perlu membuat program tambahan, cukup memperkaya dan mengarahkan kegiatan kokurikuler yang sudah ada dengan muatan nilai-nilai profil pelajar Pancasila.

Agar kokurikuler dapat efektif menggantikan P5, diperlukan strategi yang terencana dan sistematis.

1. Pemetaan Dimensi Profil ke Setiap Kegiatan

Setiap kegiatan kokurikuler perlu dipetakan untuk mengidentifikasi dimensi profil pelajar Pancasila yang dapat dikembangkan. Contohnya, Pramuka dapat fokus pada dimensi mandiri, bergotong royong, dan beriman. Kegiatan teater atau seni dapat mengembangkan dimensi kreatif dan berkebinekaan global. PMR dan relawan sosial sangat cocok untuk dimensi gotong royong dan berkebinekaan global.

2. Penyusunan Rencana Kegiatan Berbasis Profil

Pembina kokurikuler perlu menyusun rencana kegiatan yang secara eksplisit menargetkan pengembangan dimensi tertentu. Misalnya, dalam kegiatan Pramuka, bisa dirancang projek bakti sosial yang melibatkan kolaborasi dengan masyarakat lokal, sehingga mengembangkan dimensi gotong royong dan berkebinekaan global secara bersamaan.

3. Asesmen Autentik dan Reflektif

Penilaian dalam kokurikuler sebaiknya tidak hanya mengukur partisipasi, tetapi juga perkembangan karakter siswa. Guru dapat menggunakan portofolio, jurnal refleksi, observasi, dan penilaian diri untuk menilai sejauh mana siswa telah mengembangkan profil pelajar Pancasila.

4. Kolaborasi Lintas Kegiatan

Mendorong kolaborasi antar kegiatan kokurikuler dapat memperkaya pengalaman belajar. Misalnya, kegiatan jurnalistik dapat mendokumentasikan kegiatan bakti sosial PMR, sementara kelompok kesenian dapat mengadakan pentas untuk penggalangan dana. Kolaborasi ini mengembangkan kemampuan bernalar kritis, kreatif, dan bergotong royong.

5. Pelibatan Komunitas dan Stakeholder

Mengundang narasumber dari luar sekolah, berkolaborasi dengan komunitas lokal, atau mengadakan kegiatan di luar sekolah dapat memperluas perspektif siswa dan memperkuat dimensi berkebinekaan global serta kepedulian sosial.


Tantangan dan Solusinya

Meskipun potensial, pendekatan ini tidak tanpa tantangan.

Tantangan 1: Paradigma Kokurikuler Sebagai Kegiatan "Sampingan"

Banyak pihak masih memandang kokurikuler sebagai kegiatan pelengkap yang kurang penting dibanding pembelajaran akademik. Solusinya adalah melakukan sosialisasi intensif kepada semua pemangku kepentingan tentang pentingnya kokurikuler dalam pembentukan karakter dan kompetensi abad 21.

Tantangan 2: Kompetensi Pembina

Tidak semua pembina kokurikuler memiliki pemahaman yang mendalam tentang profil pelajar Pancasila. Diperlukan pelatihan dan pendampingan berkelanjutan agar pembina dapat merancang dan melaksanakan kegiatan yang berorientasi pada pengembangan profil.

Tantangan 3: Dokumentasi dan Pelaporan

Sistem dokumentasi dan pelaporan kokurikuler perlu diperbaiki agar dapat menunjukkan capaian perkembangan profil pelajar Pancasila secara terukur. Sekolah dapat mengembangkan instrumen penilaian khusus yang terintegrasi dengan rapor atau platform digital.

Tantangan 4: Keterbatasan Pilihan di Sekolah Kecil

Sekolah dengan jumlah siswa terbatas mungkin tidak dapat menyediakan banyak pilihan kokurikuler. Solusinya adalah berkolaborasi dengan sekolah lain atau komunitas sekitar, atau mengembangkan kegiatan kokurikuler berbasis projek yang dapat mengakomodasi berbagai minat.


Studi Kasus: Model Implementasi

Beberapa sekolah telah mencoba mengintegrasikan nilai-nilai karakter ke dalam kokurikuler dengan hasil yang menjanjikan. Misalnya, sebuah SMP di Yogyakarta mengintegrasikan P5 tema "Kearifan Lokal" ke dalam kegiatan kokurikuler karawitan dan tari tradisional. Siswa tidak hanya belajar seni, tetapi juga meneliti sejarah dan filosofi budaya Jawa, serta mengadakan pertunjukan untuk komunitas. Hasilnya, siswa menunjukkan peningkatan signifikan dalam dimensi berkebinekaan global dan kreatif.


Contoh lain, sebuah SMP di Lamongan mengintegrasikan tema "Gaya Hidup Berkelanjutan" ke dalam kokurikuler kelompok pecinta alam dan komunitas zero waste. Siswa melakukan riset, kampanye, dan aksi nyata di sekolah dan masyarakat. Pendekatan ini berhasil mengembangkan dimensi bernalar kritis, kreatif, dan bergotong royong secara simultan.


Kesimpulan

Kokurikuler memiliki potensi besar untuk menjadi alternatif atau bahkan pengganti Projek Profil Pelajar Pancasila jika dirancang dan dilaksanakan dengan strategi yang tepat. Keunggulan kokurikuler terletak pada struktur yang sudah mapan, pembelajaran berkelanjutan, dan fleksibilitas yang tinggi. Namun, keberhasilannya bergantung pada komitmen sekolah untuk mengubah paradigma, meningkatkan kompetensi pembina, dan mengembangkan sistem asesmen yang autentik.

Dengan mengintegrasikan nilai-nilai profil pelajar Pancasila ke dalam kokurikuler, sekolah tidak hanya dapat memenuhi tuntutan kurikulum, tetapi juga memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna dan berkelanjutan bagi peserta didik. Kokurikuler bukan lagi sekadar kegiatan tambahan, melainkan wahana strategis untuk membentuk generasi Indonesia yang berkarakter Pancasila.

---

**Catatan:** Implementasi pendekatan ini sebaiknya disesuaikan dengan konteks dan kebutuhan masing-masing sekolah, serta tetap mempertimbangkan regulasi yang berlaku dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.


Sumber refrensi 

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Panduan Pengembangan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Jakarta: Kemendikbudristek.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Keputusan Kepala BSKAP Nomor 008/H/KR/2022 tentang Capaian Pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah pada Kurikulum Merdeka. Jakarta: Kemendikbudristek.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2021). Permendikbudristek Nomor 5 Tahun 2022 tentang Standar Kompetensi Lulusan pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah. Jakarta: Kemendikbudristek.

Direktorat Sekolah Dasar, Kemendikbudristek. (2022). Panduan Pembelajaran dan Asesmen Kurikulum Merdeka. Jakarta: Kemendikbudristek.

Marzuki, M., & Basariah, B. (2021). "Implementasi Pendidikan Karakter melalui Kegiatan Ekstrakurikuler di Sekolah." Jurnal Pendidikan Karakter, 11(1), 45-58.

Wijaya, E. Y., Sudjimat, D. A., & Nyoto, A. (2016). "Transformasi Pendidikan Abad 21 sebagai Tuntutan Pengembangan Sumber Daya Manusia di Era Global." Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika, 1, 263-278.

Lickona, T. (2012). Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. New York: Bantam Books.

Supriatna, M. (2020). Pendidikan Karakter di Era Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Dewantara, J. A., Hermawan, Y., Yunus, D., Prasetiyo, W. H., Efriani, Arifiyanti, F., & Nurgiansah, T. H. (2021). "Anti-Corruption Education as an Effort to Form Students with Character Humanist and Law-Compliant." Jurnal Civics: Media Kajian Kewarganegaraan, 18(1), 70-81.

Rachmawati, I., & Suyanto, S. (2022). "Pengembangan Model Pembelajaran Berbasis Proyek untuk Penguatan Profil Pelajar Pancasila." Jurnal Inovasi Pendidikan, 8(2), 112-125.

Safitri, N. A., & Wulandari, D. (2022). "Peran Kegiatan Ekstrakurikuler dalam Membentuk Karakter Siswa di Era Digital." Jurnal Pendidikan Indonesia, 3(5), 428-439.

Nugroho, A., & Puspitasari, E. (2023). "Integrasi Nilai-Nilai Pancasila dalam Kegiatan Kokurikuler sebagai Alternatif Pendidikan Karakter." Jurnal Civic Education, 7(1), 23-35.

Sumber Digital dan Platform Resmi

Platform Merdeka Mengajar. https://guru.kemdikbud.go.id/ (diakses 30 Januari 2026)

Pusat Kurikulum dan Pembelajaran, Kemendikbudristek. Sumber Belajar Kurikulum Merdeka. https://kurikulum.kemdikbud.go.id/ (diakses 30 Januari 2026)

Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar dan Menengah. Panduan Implementasi Kurikulum Merdeka. https://ditpsd.kemdikbud.go.id/ (diakses 30 Januari 2026)

Selasa, 20 Januari 2026

Esai Puisi untuk Sumatera

 SUMATERA MENANGIS

Di tanah yang pernah hijau membentang, kini asap mengepul menutupi langit. Sumatera, pulau yang dahulu menjadi mahkota khatulistiwa, kini menangis dalam sunyi. Air matanya mengalir lewat sungai-sungai yang tercemar, menggenang di rawa-rawa yang terbakar, menetes dari mata anak-anak orangutan yang kehilangan ibu mereka.

Sumatera menangis bukan karena lemah, melainkan karena luka yang terlalu dalam. Setiap pohon yang tumbang adalah tangisan. Setiap hektar hutan yang berubah menjadi perkebunan monokultur adalah ratapan. Setiap harimau yang mati terjerat adalah isak yang tertahan di kerongkongan bumi.

Aku ingat cerita nenek tentang hutan yang begitu lebat hingga siang hari terasa seperti senja. Tentang gajah-gajah yang berkeliaran dengan tenang, tentang burung-burung yang bernyanyi di setiap dahan. Kini, cerita itu hanya tinggal cerita—warisan yang nyaris punah seperti badak sumatera yang tersisa puluhan ekor[1]. 

Pembangunan, kata mereka. Kemajuan, kata mereka. Tapi kemajuan macam apa yang dibangun di atas puing-puing kehidupan? Ekonomi yang tumbuh di atas tanah yang terbakar? Kesejahteraan yang dihitung dari jumlah ekspor sawit, sementara masyarakat adat kehilangan tanah leluhur mereka?

Sumatera menangis ketika melihat anak-anaknya terpaksa menghirup asap setiap musim kemarau. Ketika sekolah-sekolah diliburkan bukan karena hari raya, tapi karena Indeks Standar Pencemar Udara melampaui batas aman. Ketika ibu-ibu hamil melahirkan bayi dengan gangguan pernapasan. Ini bukan lagi sekadar isu lingkungan—ini krisis kemanusiaan yang nyata, seperti yang terjadi pada tahun 2015 ketika kabut asap melanda hingga 40 juta orang terdampak[2].

Air mata Sumatera juga mengalir lewat Danau Toba yang semakin surut, lewat Sungai Musi yang berwarna cokelat pekat, lewat pantai-pantai yang dipenuhi sampah plastik. Setiap elemen alam di pulau ini merasakan derita yang sama: eksploitasi tanpa henti, keserakahan tanpa batas.

Namun yang paling menyakitkan adalah ketika Sumatera menangis sendirian. Tangisannya tidak terdengar di ruang-ruang rapat pemerintahan. Tidak sampai ke telinga para pengambil keputusan yang sibuk menghitung profit dan margin. Tidak menyentuh hati konsumen global yang menikmati produk sawit tanpa pernah bertanya muasalnya.

Apakah mereka sadar bahwa Pulau itu terluka, Belantaranya  berasap, juga menggundul. Tuan tanah dan pekebun kehilangan sawah dan kebun. Tanpa solusi pasti dan mungkin hanya janji dari aparat yang merasakan untung, Tanpa peduli Sumatera buntung

Tapi dengarkan baik-baik. Di balik tangisan itu, tenyata ada harapan. Ada komunitas-komunitas lokal yang gigih menjaga hutan adat. Ada anak-anak muda yang turun ke jalan menuntut keadilan iklim. Ada orangutan yang bertahan hidup di kantong-kantong hutan yang tersisa. Masih ada harimau yang mengaum di malam hari, mengingatkan kita bahwa mereka belum menyerah.

Sumatera menangis, ya. Tapi tangisan itu juga adalah panggilan. Panggilan untuk sadar, untuk peduli, untuk bertindak. Sebelum terlambat. Sebelum tangisan itu berubah menjadi keheningan abadi. Sebelum Sumatera tidak lagi menangis—bukan karena lukanya sembuh, tapi karena ia sudah tidak punya lagi air mata untuk ditumpahkan.

Maka dengarkanlah tangisan Sumatera. Karena ketika pulau ini menangis, kita semua yang kehilangan. Kehilangan aset geologis, ekonomis dan sosial budaya. 

Sumatera menangis : akankah kita  membiarkan tangisan itu terus mengalir, ataukah kita akan mengusap air mata itu dengan tindakan nyata, dengan komitmen untuk menjaga dan merawat pulau yang telah menjadi ibu bagi jutaan jiwa ?

Jawaban ada di tangan kita semua


CATATAN KAKI

[1]: Menurut data dari Global Forest Watch, Sumatera telah kehilangan lebih dari 7 juta hektar hutan primer antara tahun 2002-2019, dengan perkebunan kelapa sawit menjadi salah satu penyebab utama deforestasi. Kebakaran hutan dan lahan gambut yang terjadi hampir setiap tahun, terutama pada 2015 dan 2019, telah melepaskan emisi karbon dalam jumlah besar dan menyebabkan krisis asap regional.

[2]: Hilangnya habitat telah menempatkan satwa endemik Sumatera dalam kategori kritis. Orangutan Sumatera (Pongo abelii) dan Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) diklasifikasikan sebagai Critically Endangered oleh IUCN. Begitu pula dengan Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang populasinya diperkirakan tersisa kurang dari 400 ekor di alam liar, serta Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) yang terus mengalami konflik dengan manusia akibat fragmentasi habitat.



Sebuah Esai

 PUISI ESAI : MEDIUM PERLAWANAN UNTUK MENYUARAKAN LUKA SOSIAL 

Dalam lanskap sastra kontemporer Indonesia, puisi esai muncul sebagai bentuk hibrid yang menantang batas-batas konvensional antara puisi dan prosa. Lebih dari sekadar eksperimen estetis, puisi esai telah membuktikan dirinya sebagai medium yang sangat tepat untuk menyuarakan luka sosial. Dalam era di mana ketidakadilan semakin kompleks dan berlapis, puisi esai menawarkan ruang artikulasi yang lebih luas, mendalam, dan kritis dibandingkan puisi lirik tradisional.[1]

Salah satu kekuatan utama puisi esai terletak pada keluasan ruang narasinya. Berbeda dengan puisi lirik yang cenderung padat dan terkondensasi dalam beberapa bait, puisi esai memberikan keleluasaan panjang yang memungkinkan penyair untuk mengurai kompleksitas persoalan sosial secara menyeluruh.[2] Luka sosial jarang bersifat sederhana atau berdimensi tunggal. Kemiskinan struktural, misalnya, tidak dapat dipahami hanya melalui gambaran tunggal tentang kelaparan atau gubuk reot. Ia memerlukan penelusuran terhadap sistem ekonomi, kebijakan negara, warisan kolonialisme, dan jaringan kekuasaan yang melanggengkan ketimpangan.

Puisi esai memberi ruang bagi penyair untuk melakukan penelusuran semacam itu. Dalam satu karya, penyair dapat mengintegrasikan narasi personal korban, data statistik, kutipan kebijakan pemerintah, refleksi filosofis, hingga kritik terhadap struktur kekuasaan. Keragaman elemen ini tidak dimungkinkan dalam format puisi konvensional tanpa mengorbankan kohesivitas.[3] Namun dalam puisi esai, berbagai lapisan informasi dan perspektif dapat ditenun menjadi satu kesatuan yang utuh, menciptakan pemahaman yang lebih komprehensif tentang akar dan manifestasi luka sosial.

Puisi esai memiliki keunggulan unik dalam menggabungkan fakta dan emosi, dua elemen yang sama-sama penting dalam menyuarakan luka sosial. Di satu sisi, fakta dan data memberikan landasan objektif yang memperkuat kredibilitas dan urgensi persoalan yang diangkat. Di sisi lain, emosi dan pengalaman subjektif menghadirkan dimensi kemanusiaan yang membuat pembaca tidak hanya memahami, tetapi juga merasakan dampak dari ketidakadilan sosial.[4]

Dalam puisi esai, penyair dapat menyajikan statistik tentang jumlah petani yang kehilangan tanah akibat perampasan lahan, kemudian segera mengikutinya dengan narasi personal tentang seorang ayah yang kehilangan identitas setelah sawahnya digusur. Data memberikan skala masalah, sementara narasi memberikan wajah dan suara kepada angka-angka tersebut. Penggabungan ini menciptakan dampak ganda: intelektual dan emosional, yang lebih efektif dalam menggerakkan kesadaran dan empati pembaca.

Lebih jauh, strategi penggabungan ini juga melawan kecenderungan untuk mereduksi korban ketidakadilan menjadi sekadar statistik. Puisi esai mengembalikan kemanusiaan kepada mereka yang terpinggirkan, memberikan ruang bagi pengalaman hidup mereka untuk didengar dalam segala kompleksitas dan nuansanya.[5]

Puisi esai tidak terikat pada satu gaya atau pendekatan naratif tertentu. Fleksibilitas ini memungkinkan penyair untuk memilih strategi penyampaian yang paling sesuai dengan karakter luka sosial yang ingin disuarakan.[6] Penyair dapat menggunakan narasi kronologis untuk melacak genealogi sebuah ketidakadilan, menggunakan montase untuk menggambarkan fragmentasi pengalaman korban trauma, atau menggunakan gaya investigatif untuk membongkar mekanisme penindasan yang tersembunyi.

Fleksibilitas ini juga mencakup kemampuan untuk berpindah sudut pandang. Dalam satu puisi esai, penyair dapat berbicara dari perspektif orang pertama sebagai saksi atau korban, kemudian beralih ke sudut pandang orang ketiga untuk memberikan analisis yang lebih objektif, atau bahkan menggunakan orang kedua untuk melibatkan pembaca secara langsung dalam refleksi moral. Perpindahan sudut pandang ini menciptakan efek polifonik yang memperkaya pemahaman tentang realitas sosial yang multidimensional.[7]

Salah satu karakteristik definitif puisi esai adalah inkorporasi elemen esai, yang membawa serta tradisi pemikiran kritis dan argumentasi. Ini membedakan puisi esai dari puisi lirik yang lebih mengutamakan evokasi perasaan melalui citra dan metafora.  Dalam menyuarakan luka sosial, dimensi kritis ini sangat penting karena memungkinkan penyair untuk tidak hanya menggambarkan penderitaan, tetapi juga menganalisis penyebabnya, mengkritisi struktur yang melanggengkannya, dan bahkan mengusulkan kemungkinan resistensi atau transformasi.

Puisi esai memberikan ruang bagi penyair untuk berteori, untuk mempertanyakan asumsi dominan, untuk membongkar ideologi yang mendasari ketidakadilan. Misalnya, dalam mengangkat tema perempuan korban kekerasan domestik, penyair tidak hanya menggambarkan penderitaan fisik dan psikologis korban, tetapi juga dapat mengkritisi struktur patriarki, mempertanyakan definisi normatif tentang keluarga, dan menganalisis bagaimana negara dan agama sering kali gagal melindungi perempuan.[8]

Dimensi reflektif ini juga memungkinkan penyair untuk mengkontekstualisasikan luka sosial dalam kerangka sejarah dan politik yang lebih luas. Sebuah puisi esai tentang pekerja migran, misalnya, dapat melacak akar historis dari migrasi tenaga kerja ke praktik kolonial, menghubungkannya dengan globalisasi neoliberal kontemporer, dan menempatkannya dalam diskursus tentang hak asasi manusia dan keadilan ekonomi global.[9]

Dalam dunia di mana penderitaan sering dikemas dan dikonsumsi sebagai tontonan atau komoditas, puisi esai menawarkan cara alternatif untuk merepresentasikan luka sosial. Karena formatnya yang panjang dan kompleks, puisi esai menolak untuk menyederhanakan atau memperindah penderitaan demi konsumsi yang mudah. Ia menuntut kesabaran dan keterlibatan intelektual dari pembaca, menciptakan ruang kontemplasi yang lebih mendalam ketimbang reaksi emosional yang dangkal dan sementara.

Puisi esai juga dapat secara kritis merefleksikan tentang tindakan representasi itu sendiri, mempertanyakan posisi penyair, mengakui keterbatasan perspektif, dan menghindari klaim kebenaran absolut. Kesadaran diri semacam ini mencegah puisi esai jatuh ke dalam jebakan eksploitasi penderitaan orang lain untuk kepentingan estetis atau politis penyair.[10]

Puisi esai, dengan penggabungannya antara bahasa puitis dan prosa diskursif, juga memiliki potensi untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Bagi pembaca yang mungkin merasa terintimidasi oleh bahasa puisi yang sangat metaforis atau simbolis, elemen esai dalam puisi esai memberikan jangkar pemahaman yang lebih konkret. Sebaliknya, bagi pembaca yang biasa dengan esai atau prosa non-fiksi, elemen puitis memberikan intensitas emosional dan keindahan bahasa yang memperdalam pengalaman membaca.

Demokratisasi ini penting dalam konteks menyuarakan luka sosial karena semakin luas jangkauan sebuah karya, semakin besar potensinya untuk membangun kesadaran kolektif dan menggerakkan solidaritas. Puisi esai dapat berfungsi sebagai jembatan antara dunia sastra dan aktivisme sosial, antara refleksi estetis dan tindakan politik.[11]

Puisi esai juga berfungsi sebagai bentuk pengarsipan kesaksian dan memori kolektif tentang ketidakadilan. Dalam masyarakat di mana sejarah sering ditulis oleh pemenang dan suara korban dibungkam, puisi esai memberikan medium alternatif untuk mendokumentasikan pengalaman mereka yang terpinggirkan. Melalui detail naratif yang kaya dan kontekstualisasi yang mendalam, puisi esai menciptakan catatan yang lebih lengkap dan bernuansa tentang momen-momen trauma sosial.[12]

Fungsi arsip ini sangat penting dalam konteks Indonesia, di mana banyak episode kekerasan negara dan ketidakadilan struktural belum mendapat pengakuan atau penyelesaian yang adil. Puisi esai tentang tragedi 1965, misalnya, dapat berfungsi sebagai counter-narasi terhadap versi resmi sejarah, memberikan ruang bagi kesaksian korban dan keluarganya, dan menuntut akuntabilitas moral jika bukan legal.[13]


KESIMPULAN

Puisi esai, dengan karakteristik hibridnya, menawarkan medium yang sangat tepat untuk menyuarakan luka sosial di era kontemporer. Keluasan ruang narasinya memungkinkan eksplorasi mendalam tentang kompleksitas ketidakadilan, sementara fleksibilitas gaya dan pendekatannya memberikan kebebasan untuk merespons berbagai bentuk penindasan dengan cara yang paling sesuai. Penggabungan fakta dan emosi, dimensi kritis dan reflektif, serta resistensinya terhadap komodifikasi penderitaan menjadikan puisi esai bukan hanya sebagai bentuk ekspresi artistik, tetapi juga sebagai tindakan politis dan etis.[14]

Dalam konteks Indonesia yang terus bergulat dengan warisan kolonialisme, otoritarianisme, dan ketimpangan struktural, puisi esai menawarkan ruang untuk menyuarakan pengalaman mereka yang terpinggirkan, untuk mengkritisi sistem yang menindas, dan untuk membayangkan kemungkinan transformasi sosial. Ia adalah bentuk sastra yang tidak hanya mencatat luka, tetapi juga berupaya memahami, mengkritisi, dan pada akhirnya berkontribusi pada proses penyembuhan kolektif melalui kesadaran dan solidaritas yang dibangunnya.[15]


CATATAN KAKI


[1]: Ahmad Gaus, *Puisi Esai: Kemungkinan Baru Puisi Indonesia* (Jakarta: Gramedia, 2018), hlm. 15-17. 

[2]: Sapardi Djoko Damono, "Pengantar Puisi Esai", dalam Denny J.A., et al., *Antologi Puisi Esai* (2017), hlm. viii-x.

[3]: Denny J.A. Ali, *Atas Nama Cinta* (Jakarta: Lingkaran Survei Indonesia, 2012), hlm. 5-8. 

[4]: Ikwan Setiawan, "Konflik Sosial dalam Antologi Puisi Esai: Serat Kembang Raya", *Arkhais: Jurnal Ilmu Bahasa Indonesia*, Vol. 8 No. 1 (2017), hlm. 45-48. 

[5]: Peri Sandi Huizche, "Mata Luka Sengkon Karta", *Jurnal Sajak* (Jakarta, 2012), hlm. 23-25.

[6]: Ahmad Gaus, *Puisi Esai*, hlm. 45-52. 

[7]: Ikwan Setiawan, "Konflik Sosial dalam Antologi Puisi Esai", hlm. 51-54.

[8]: Denny J.A. Ali, Atas Nama Cinta, hlm. 78-95. 

[9]: Ahmad Gaus, Puisi Esai, hlm. 89-102. 

[10]: Sapardi Djoko Damono, "Pengantar Puisi Esai", hlm. xii-xiv. 

[11]: Ikwan Setiawan, "Konflik Sosial dalam Antologi Puisi Esai", hlm. 59-62. 

[12]: Ahmad Gaus, Puisi Esai, hlm. 125-138

[13] https://id.wikipedia.org/wiki/Puisi_esai

[14]: Denny J.A. Ali, Atas Nama Cinta, hlm. 12-15.

[15]: Ikwan Setiawan, "Konflik Sosial dalam Antologi Puisi Esai", hlm. 65-68


DAFTAR PUSTAKA

Ali, Denny J.A. (2012). *Atas Nama Cinta*. Jakarta: Lingkaran Survei Indonesia.

Damono, Sapardi Djoko. (2017). "Pengantar Puisi Esai". Dalam Denny J.A., et al. *Antologi Puisi Esai*.

Daus, Ahmad. (2018). *Puisi Esai: Kemungkinan Baru Puisi Indonesia*. Jakarta: Gramedia.

Huizche, Peri Sandi. (2012). "Mata Luka Sengkon Karta". *Jurnal Sajak*, Jakarta.

Setiawan, Ikwan. (2017). "Konflik Sosial dalam Antologi Puisi Esai: Serat Kembang Raya". *Arkhais: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia*, Vol. 8 No. 1.

Wikipedia Indonesia. (2025). "Puisi Esai". Diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Puisi_esai



Sumatera menangis: ketika puisi menampar kesadaran

Sumatera menangis dalam sunyi yang tak lagi sunyi. Tangisnya bergema dalam asap yang mengepul dari hutan yang terbakar, dalam tanah yang retak kehausan, dalam sungai yang berubah menjadi selokan raksasa tempat limbah industri bersarang. Ini bukan sekadar metafora—ini adalah kenyataan yang menampar wajah kita setiap pagi, mengingatkan bahwa bumi yang kita pijak sedang merintih dalam kepedihan.

Puisi menjadi medium perlawanan ketika kata-kata lain tak lagi cukup kuat. Ketika data statistik tentang deforestasi hanya menjadi angka dingin di atas kertas, ketika laporan ilmiah terkubur dalam jargon akademis yang jauh dari jangkauan masyarakat, puisi hadir sebagai jembatan. Ia menerjemahkan luka sosial menjadi bahasa emosi yang bisa menembus dinding-dinding ketidakpedulian.

Dalam tradisi sastra Indonesia, puisi selalu menjadi corong perlawanan¹. Dari Chairil Anwar yang berteriak "Aku ini binatang jalang" hingga Wiji Thukul yang menulis "Hanya ada satu kata: Lawan!", penyair telah membuktikan bahwa kata-kata bisa menjadi peluru tanpa mesiu, bisa menggugah tanpa kekerasan. Kini giliran kita menyuarakan tangis Sumatera—tangis bumi yang terluka oleh keserakahan tanpa batas.

Hutan-hutan dijadikan perkebunan sawit yang membentang sejauh mata memandang². Orangutan kehilangan rumah, harimau terpojok di sudut-sudut hutan yang tersisa. Air sungai yang dulu jernih kini kehitaman, membawa racun ke laut tempat ikan-ikan nelayan berenang. Petani gurem kehilangan tanah warisan leluhur, dijanjikan kesejahteraan yang tak pernah tiba. Ini adalah luka sosial yang dalam, luka yang berdarah namun tak terlihat di permukaan.

Maka puisi menjadi saksi. Ia mencatat setiap isak tangis yang tak terdengar, setiap doa yang terlupakan, setiap harapan yang mati sebelum sempat tumbuh. Puisi tidak hanya menghibur—ia menggugat. Ia bertanya dengan lantang: "Sampai kapan kita akan menjadi penonton dalam tragedi ini?"

Cintai bumi kembali, seruan itu bukan sekadar imbauan romantis. Ia adalah tuntutan konkret: hentikan penebangan liar, pulihkan ekosistem yang rusak, kembalikan hak-hak masyarakat adat atas tanah mereka. Cinta pada bumi berarti keberanian untuk melawan sistem yang mengeksploitasi, keberanian untuk memilih keberlanjutan di atas keuntungan sesaat.

Puisi mengajarkan kita bahwa perlawanan tidak selalu harus keras dan penuh amarah. Perlawanan bisa lembut namun tajam, puitis namun politis. Ketika kita menulis tentang pohon terakhir yang tumbang, kita sedang menulis tentang peradaban yang kehilangan akar. Ketika kita menulis tentang sungai yang tercemar, kita sedang menulis tentang masa depan anak cucu yang terancam.

Di setiap bait yang kita tulis, ada tuntutan keadilan yang tersirat. Di setiap metafora yang kita rangkai, ada kritik terhadap kekuasaan yang abai. Puisi menjadi arsip perlawanan, dokumentasi panjang tentang bagaimana sebuah generasi mencoba menyelamatkan apa yang hampir punah. Ia adalah warisan untuk mereka yang akan datang, bukti bahwa kita tidak diam dalam menghadapi kehancuran. Lewat puisi, suara yang dibungkam menemukan ruang, dan harapan yang hampir padam kembali menyala. Dalam setiap pembacaan puisi di ruang publik, kesadaran ekologis tumbuh, membangun solidaritas kolektif melawan penghancuran sistematis terhadap alam³. Puisi adalah pisau bermata dua: merobek kebohongan, merajut harapan baru.

Sumatera menangis, tetapi tangisnya bukan akhir dari segalanya. Tangis bisa menjadi awal kesadaran, titik balik dari kerusakan menuju pemulihan. Dan puisi—medium perlawanan kita—akan terus menyuarakan luka sosial ini sampai bumi kembali tersenyum, sampai Sumatera berhenti menangis.


Catatan Kaki:

¹ Dalam konteks sejarah sastra Indonesia, puisi telah menjadi alat perlawanan sejak masa kolonial hingga era reformasi. Puisi-puisi Angkatan 45, misalnya, tidak hanya berbicara tentang kemerdekaan politik tetapi juga kemerdekaan berpikir dan bertindak. Tradisi ini berlanjut dalam puisi-puisi kontemporer yang mengangkat isu lingkungan dan keadilan sosial sebagai bentuk resistensi terhadap ketidakadilan sistemik. Lihat: Rosidi, Ajip. Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia. Bandung: Binacipta, 1976, hlm. 89-103.

² Sumatera telah kehilangan lebih dari 50% tutupan hutan aslinya dalam lima dekade terakhir, terutama akibat konversi lahan untuk perkebunan kelapa sawit dan akasia. Kebakaran hutan dan lahan gambut yang terjadi hampir setiap tahun, khususnya krisis asap tahun 2015 dan 2019, mengakibatkan jutaan hektare hutan musnah, ratusan ribu orang mengalami gangguan pernapasan, dan kerugian ekonomi mencapai miliaran dolar. Satwa endemik seperti harimau sumatera, orangutan, dan gajah sumatera terancam punah karena hilangnya habitat alami mereka. Data dari: Margono, B.A., et al. "Primary forest cover loss in Indonesia over 2000–2012." Nature Climate Change, 4 (2014): 730-735, hlm. 731-733; World Bank. The Cost of Fire: An Economic Analysis of Indonesia's 2015 Fire Crisis. Jakarta: World Bank, 2016, hlm. 12-28; IUCN Red List of Threatened Species, diakses pada 2024.

³ Kerridge, Richard. "Ecocritical Readings." In The Cambridge Companion to Literature and the Environment, edited by Louise Westling, 136-152. Cambridge: Cambridge University Press, 2014, hlm. 142-145.




Senin, 19 Januari 2026

SIMFONI LANGIT YANG MERADANG


Hujan datang bukan sebagai bisikan lembut di jendela, melainkan sebagai teriakan langit yang tak tertahankan. Ia menghantam bumi dengan amarah yang telah lama terpendam di awan-awan gelap, memecah keheningan sore dengan dentuman yang membuat jantung berdebar. Setiap tetes adalah peluru air yang jatuh tanpa ampun, menari-nari liar di atas genteng, memukul dedaunan hingga merunduk pasrah, mengubah jalanan menjadi sungai-sungai kecil yang mengalir tanpa tujuan.


Dan angin—oh, angin yang datang sebagai sahabat karib hujan—ia berputar dengan kemarahan yang sama. Ia melolong menembus celah-celah pintu, merobek tirai dengan tangan tak kasatmata, menggoyangkan pepohonan hingga akar-akarnya seolah ingin lepas dari pelukan tanah. Angin ini bukan sekadar hembusan udara; ia adalah roh yang gelisah, yang mencari sesuatu di tengah badai, yang berteriak dalam bahasa yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang berani mendengarkan ketakutan mereka sendiri.


Bersama-sama, hujan dan angin menciptakan simfoni kekacauan yang paradoks: menakutkan namun memesona, merusak namun menyucikan. Mereka mengingatkan kita bahwa alam tidak selalu hadir sebagai pemandangan yang tenang di kartu pos. Kadang ia datang sebagai pengingat akan kekuatan yang jauh melampaui kendali manusia, sebagai manifestasi dari emosi bumi yang tak terucapkan—amarah, kesedihan, atau mungkin hanya keinginan untuk melepaskan segala yang terpendam.


---


**BADAI**


Langit merobek jubahnya sendiri,

Menuangkan segala luka yang tersimpan

Dalam ribuan jarum air yang menusuk bumi.

Hujan ini bukan embun pagi yang lembut—

Ia adalah tangis yang terlalu lama ditahan,

Adalah amarah yang mencari pembenaran.


Angin datang sebagai penari gila,

Memutar, merobek, meruntuhkan

Segala yang berdiri dengan angkuh.

Ia melolong di setiap sudut sunyi,

Membawa pesan dari ujung dunia

Tentang hal-hal yang tak dapat kita pahami.


Pepohonan membungkuk dalam sujud paksa,

Ranting-ranting patah seperti tulang rapuh,

Dedaunan beterbangan seperti burung tanpa arah.

Sementara di jalan, air berlari tanpa henti,

Membawa segala yang pernah kita buang—

Sampah, kenangan, harapan yang luntur.


Di balik jendela yang berembun,

Aku berdiri sebagai penonton kecil

Di teater agung milik alam.

Ada ketakutan, ya, dalam dada ini,

Tapi juga kagum yang membisu—

Karena badai ini lebih jujur

Daripada semua kata yang pernah kuucapkan.


Hujan lebat mengajarkan tentang pelepasan,

Angin kencang berbisik tentang perubahan.

Bersama mereka mengingatkan:

Bahwa kadang kita harus hancur dulu

Sebelum bisa utuh kembali,

Bahwa kadang langit harus menangis

Agar bumi bisa tersenyum lagi.


Dan ketika badai mereda,

Ketika hujan menjadi rintik yang malas,

Ketika angin tertidur dalam kelelahan—

Akan ada pelangi, mungkin,

Atau sekadar udara yang lebih bersih,

Dan kita yang selamat dari gempuran malam,

Berdiri sedikit lebih kuat dari kemarin.


---


Di tengah gempuran ini, kita yang berlindung di dalam rumah menjadi saksi yang tak berdaya sekaligus takjub. Kita menatap melalui jendela yang berembun, melihat dunia di luar berubah menjadi lanskap yang asing—kabur, basah, dan bergolak. Namun ada kedamaian aneh dalam kekacauan ini, semacam katarsis kolektif ketika langit mencurahkan segala bebannya dan bumi menerimanya dengan lapang dada.


Hujan lebat dan angin kencang adalah pengingat bahwa kehidupan tidak selalu tentang ketenangan. Kadang kita membutuhkan badai untuk membersihkan udara yang pengap, untuk menggoyangkan fondasi yang rapuh, untuk memaksa kita menyadari betapa kecilnya kita di hadapan alam semesta. Dan ketika badai itu berlalu—karena ia pasti akan berlalu—yang tersisa adalah bumi yang basah dan segar, langit yang mulai cerah, dan kita yang menjadi sedikit lebih bijak tentang tempat kita di dunia ini.

Sabtu, 17 Januari 2026

ESAI : Jerat Ganda dalam Genggaman Digital

 

Di era ketika jarak ditaklukkan oleh sinyal internet, muncul fenomena yang menggerogoti sendi-sendi kehidupan masyarakat: judi online dan riba. Keduanya hadir dengan wajah modern, terbungkus dalam aplikasi yang menarik, namun menyimpan kehancuran yang sama tuanya dengan sejarah peradaban manusia.

Judi online datang dengan janji-janji manis: kemenangan cepat, kekayaan instan, hiburan tanpa batas. Cukup dengan sentuhan jari, seseorang bisa mempertaruhkan seluruh masa depannya. Tidak perlu lagi ke kasino mewah atau tempat gelap di sudut kota. Cukup di kamar tidur, di perjalanan pulang, bahkan di tengah waktu kerja—judi kini hadir dalam genggaman.

Sementara itu, riba menjelma dalam berbagai bentuk yang semakin canggih. Pinjaman online dengan bunga mencekik, kartu kredit yang menjerat, investasi bodong yang menjanjikan keuntungan tidak masuk akal. Semua menawarkan solusi cepat bagi kesulitan finansial, namun justru menenggelamkan korbannya lebih dalam ke jurang kemiskinan.

 Genggaman Digital

Di balik layar yang bercahaya terang
Tersembunyi jerat yang menganga
Jari-jari menari di atas kaca
Mempertaruhkan esok yang fana
"Coba sekali lagi," bisik setan halus
"Kemenangan sudah di depan mata"
Namun yang tersisa hanya tangis dan nestapa
Ketika rumah tangga mulai runtuh dan hancur
Riba datang dengan wajah penolong
Menawarkan jalan keluar yang mudah
Tapi bunganya yang berbunga
Mencengkeram leher hingga sesak napas
Oh, manusia yang lalai
Terjerat oleh godaan sesaat
Lupa bahwa rezeki yang barokah
Datang dari keringat yang halal

Judi dan riba, meski berbeda bentuk, memiliki esensi yang sama: mengambil keuntungan tanpa kerja produktif, membangun harapan di atas ketidakpastian, dan menciptakan ketergantungan yang merusak. Keduanya bermain dengan psikologi manusia—keserakahan, ketakutan, dan harapan palsu.

Dalam judi online, algoritma dirancang untuk membuat pemain terus kembali. Kemenangan kecil di awal menciptakan euforia, sementara kekalaman demi kekalahan dipandang sebagai "hampir menang"—sebuah ilusi yang membuat orang terus mencoba. Data menunjukkan bahwa mayoritas penjudi online mengalami kerugian finansial yang signifikan, dengan banyak yang berujung pada kebangkrutan.

Begitu pula riba, yang awalnya tampak menolong, namun bunganya yang berbunga menciptakan lingkaran setan yang tak berujung. Seseorang yang meminjam untuk kebutuhan mendesak, tiba-tiba harus membayar dua kali lipat, tiga kali lipat, bahkan lebih. Utang yang semula Rp 1 juta bisa membengkak menjadi Rp 5 juta dalam hitungan bulan.

Di balik maraknya judi online dan riba, terdapat krisis yang lebih dalam: krisis spiritual dan moral masyarakat. Ketika nilai-nilai kesabaran, kerja keras, dan kejujuran mulai pudar, digantikan oleh budaya instan dan materialisme, maka judi dan riba menemukan lahan subur untuk tumbuh.

Masyarakat yang tertekan secara ekonomi, ditambah dengan minimnya literasi keuangan, menjadi target empuk. Iklan-iklan menyesatkan yang menjanjikan kekayaan cepat, testimoni palsu, dan bonus-bonus menggiurkan menjadi umpan yang efektif.

        Luka yang Menganga

Berapa banyak istri yang menangis dalam diam
Ketika suami pulang dengan tangan hampa
Uang belanja lenyap dalam taruhan maya
Anak-anak bertanya, "Kapan kita makan, Ayah?"
Berapa banyak pemuda kehilangan masa depan
Tenggelam dalam ilusi jackpot dan kemenangan
Waktu terbuang, mimpi terkubur
Hidup hanya berputar di roda kemujuran
Dan berapa banyak keluarga tercerai-berai
Karena lilitan utang yang tak terbayar
Rentenir digital mengetuk pintu setiap hari
Mengancam, mempermalukan, menghancurkan harga diri
Ini bukan sekadar angka statistik
Ini adalah luka nyata yang menganga
Di jantung masyarakat kita
Di tengah keluarga yang dulu bahagia

Yang paling menyedihkan, korban judi online dan riba bukanlah hanya individu yang terlibat langsung. Keluarga hancur ketika ayah atau ibu menghabiskan uang belanja untuk berjudi. Anak-anak kehilangan masa depan ketika biaya pendidikan tergerus utang riba.

Istri yang harus menanggung malu karena didatangi debt collector. Anak yang putus sekolah karena uang SPP dipakai untuk membayar bunga pinjaman. Orang tua yang sakit tidak bisa berobat karena tabungan habis untuk menutupi utang anak yang kecanduan judi online.

Masyarakat pun terkikis, karena produktivitas menurun dan nilai-nilai gotong royong digantikan oleh mentalitas instan dan spekulatif. Kriminalitas meningkat karena orang-orang yang terlilit utang nekat melakukan tindakan ilegal untuk membayar hutang.

Pelaku judi online dan pinjol ilegal menggunakan berbagai strategi untuk menjerat korban:

  1. Promosi Agresif: Menggunakan selebriti, influencer, dan iklan masif di media sosial
  2. Bonus Menarik: Memberikan bonus deposit awal untuk menarik pemain baru
  3. Kemudahan Akses: Tidak memerlukan verifikasi ketat, cukup KTP dan selfie
  4. Psikologi Manipulatif: Menggunakan notifikasi, reward system, dan FOMO (Fear of Missing Out)
  5. Normalisasi: Membuat judi dan hutang tampak sebagai hal yang normal dan dapat diterima

          Bangkit dari Kehancuran

Namun di tengah kegelapan yang pekat
Masih ada cahaya harapan yang menyala
Dari mereka yang bangkit dari keterpurukan
Memilih jalan taubat dan perjuangan
Tidak mudah melepas belenggu kecanduan
Melawan godaan yang terus berbisik
Tapi dengan tekad yang kuat dan iman yang teguh
Satu demi satu rantai dapat dipatahkan
Keluarga yang hampir hancur
Bisa dibangun kembali dengan kesabaran
Utang yang menumpuk
Dapat dilunasi dengan kerja keras dan disiplin
Inilah kisah para pejuang sejati
Yang memilih jalan terjal namun bermartabat
Yang memilih keringat halal
Daripada harta haram yang melimpah

Semua agama besar di Indonesia—Islam, Kristen, Hindu, Buddha—secara tegas melarang judi dan riba. Dalam Islam, keduanya termasuk dalam dosa besar yang dapat menghapus keberkahan hidup. Dalam ajaran Kristen, riba yang mencekik bertentangan dengan prinsip kasih dan keadilan. Hindu dan Buddha mengajarkan tentang karma dan akibat dari perbuatan yang merugikan orang lain.

Budaya nusantara pun sebenarnya menjunjung tinggi nilai-nilai gotong royong, kejujuran, dan kerja keras. Pepatah "berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian" mengajarkan bahwa kesuksesan memerlukan perjuangan dan pengorbanan, bukan keberuntungan instan.

Melawan dengan Kesadaran dan Tindakan Nyata

Perlawanan terhadap judi online dan riba bukan hanya tugas pemerintah atau lembaga agama. Ini adalah tanggung jawab setiap individu untuk membangun kesadaran diri dan keluarga. Beberapa langkah konkret yang dapat dilakukan:

Tingkat Individu dan Keluarga:

  • Membangun literasi keuangan sejak dini
  • Mengajarkan anak tentang nilai uang dan pentingnya menabung
  • Menghindari gaya hidup konsumtif dan membandingkan diri dengan orang lain
  • Membangun komunikasi terbuka dalam keluarga tentang kondisi finansial
  • Mencari bantuan profesional jika sudah terlanjur kecanduan

Tingkat Masyarakat:

  • Kampanye kesadaran tentang bahaya judi online dan riba
  • Membentuk kelompok dukungan bagi korban
  • Melaporkan situs judi ilegal dan pinjol tanpa izin
  • Mendukung program-program pemberdayaan ekonomi masyarakat

Tingkat Pemerintah:

  • Penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku
  • Pemblokiran situs judi ilegal
  • Regulasi ketat terhadap fintech dan pinjaman online
  • Pendidikan keuangan sebagai bagian dari kurikulum sekolah

Kita perlu kembali pada prinsip dasar: bahwa kekayaan sejati dibangun melalui kerja keras, kesabaran, dan keberkahan—bukan melalui jalan pintas yang justru menghancurkan. Bahwa kebahagiaan tidak terletak pada harta yang melimpah dalam sekejap, melainkan pada ketenangan hati yang diperoleh melalui usaha yang halal dan berkah.

     Jalan Terang yang Kita Pilih

Mari kita tutup pintu-pintu kegelapan
Yang dibuka oleh teknologi tanpa kebijaksanaan
Mari kita ajari anak-anak kita
Bahwa kesuksesan sejati memerlukan pengorbanan
Tidak ada jalan pintas menuju kebahagiaan
Tidak ada kekayaan instan yang membawa berkah
Yang ada hanyalah kerja, doa, dan ikhtiar
Serta tawakal kepada Yang Maha Memberi Rezeki
Biarlah keringat kita yang berbicara
Tentang perjuangan dan pengabdian
Biarlah tangan kita yang kotor oleh kerja
Menjadi saksi kejujuran dan kehormatan
Karena di akhir perjalanan hidup ini
Yang dipertanyakan bukanlah seberapa besar harta kita
Melainkan dari mana harta itu datang
Dan untuk apa ia kita gunakan
Judi dan riba adalah jalan yang keliru
Menuju kehancuran yang pasti
Sementara kerja keras dan kejujuran
Adalah jalan menuju kemuliaan yang abadi

Banyak kisah nyata dari mereka yang berhasil bangkit dari jeratan judi online dan riba. Kisah-kisah ini bukan untuk menghakimi, melainkan untuk memberi harapan bahwa perubahan itu mungkin.

Ada yang dulu kehilangan rumah, mobil, dan hampir kehilangan keluarga, namun kini menjadi motivator yang membantu orang lain keluar dari kecanduan. Ada yang dulu terlilit utang ratusan juta, namun dengan tekad kuat dan dukungan keluarga, berhasil melunasi semuanya dalam beberapa tahun.

Mereka semua memiliki kesamaan: kesadaran untuk berubah, keberanian mengakui kesalahan, dan komitmen untuk tidak kembali ke jalan yang keliru.

Di tengah gempuran teknologi yang membawa judi dan riba semakin dekat ke kehidupan kita, kita memiliki pilihan: menjadi korban atau menjadi pribadi yang berdaya. Layar ponsel bisa menjadi jendela pengetahuan atau jurang kehancuran—semuanya tergantung pada pilihan kita.

Mari kita jadikan teknologi sebagai alat untuk membangun, bukan menghancurkan. Mari kita tolak godaan keuntungan instan yang menipu, dan memilih jalan perjuangan yang mungkin lebih panjang, namun pasti lebih bermakna dan membawa berkah bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.

Pendidikan, kesadaran, dan tindakan nyata adalah kunci untuk melawan epidemi judi online dan riba di era digital ini. Setiap individu memiliki peran penting dalam perlawanan ini—sebagai orang tua yang melindungi anak, sebagai pendidik yang memberi pemahaman, sebagai teman yang mengingatkan, dan sebagai warga negara yang bertanggung jawab.

       Sumpah Kita Bersama

Hari ini kita bersumpah
Untuk melindungi keluarga dari jerat digital
Untuk mendidik generasi muda
Tentang nilai kerja keras dan kejujuran
Hari ini kita berkomitmen
Untuk tidak tergoda oleh janji-janji palsu
Untuk tidak tergiur oleh kekayaan sesaat
Yang membawa kehancuran selamanya
Hari ini kita memilih
Jalan yang terang meski berliku
Jalan yang terjal meski mulia
Jalan yang panjang meski penuh berkah
Karena pada akhirnya, kehidupan yang sejati
Bukan diukur dari seberapa cepat kita kaya
Melainkan seberapa bermakna jejak yang kita tinggalkan
Untuk anak cucu kita kelak
Dan semoga, ketika saatnya tiba
Kita dapat berkata dengan bangga:
"Aku telah memilih jalan yang benar
Aku telah mewariskan kehormatan, bukan hutang
Aku telah memberi teladan, bukan luka
Aku telah hidup dengan bermartabat"
Itulah warisan terbesar
Yang dapat kita tinggalkan
Bukan harta yang melimpah dari jalan haram
Melainkan nama baik dan doa anak cucu
Yang akan terus mengalir
Hingga akhir zaman

Epilog

Judi online dan riba adalah ujian zaman. Ujian tentang ketahanan iman, kekuatan moral, dan kebijaksanaan dalam menggunakan teknologi. Generasi kita memiliki tanggung jawab besar untuk tidak hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga generasi mendatang dari bahaya yang mengancam ini.

Mari kita jadikan esai dan puisi ini bukan sekadar bacaan, melainkan panggilan untuk bertindak. Mulai dari diri sendiri, dari keluarga kita, dari lingkungan terdekat kita. Karena perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang konsisten.

Semoga kita semua diberi kekuatan untuk memilih jalan yang benar, dan diberi keberkahan dalam setiap langkah perjalanan hidup kita. Amin.

Jumat, 16 Januari 2026

Guru dan Petugas Gizi: Pertanyaan tentang Keadilan

 

Di ruang kelas yang sama, di bawah langit yang sama, dua sosok berdiri dengan pengabdian yang tak berbeda. Guru honorer dan guru swasta—mereka yang mengukir masa depan bangsa dengan kapur dan kesabaran, dengan gaji yang sering kali tak mencukupi kebutuhan dasar. Lalu datang program baru: Makan Bergizi Gratis, dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi yang menjanjikan gaji tiga juta rupiah untuk para petugasnya.

Bukan soal membandingkan mulia tidaknya pekerjaan. Keduanya penting, keduanya mulia. Guru membentuk pikiran, petugas gizi menjaga tubuh—keduanya pilar peradaban. Namun ada yang mengganjal dalam hati mereka yang telah puluhan tahun berdiri di depan kelas tanpa kepastian. Ada pertanyaan yang bergema di lorong-lorong sekolah: mengapa penghargaan untuk pengabdian bisa begitu timpang?

Guru honorer, yang sudah bertahun-tahun mengajar, masih menanti angkat sebagai ASN dengan gaji yang layak. Guru swasta, yang tak kalah berdedikasi, sering menerima honor seadanya—jauh dari kata sejahtera. Mereka terbiasa dengan ketidakpastian, terbiasa dengan pengorbanan yang tak terhitung. Lalu muncul program baru dengan janji gaji yang membuat mata terbelalak.

Tiga juta rupiah. Angka yang bagi sebagian guru adalah mimpi yang jauh. Sementara petugas SPPG—posisi yang baru akan tercipta—sudah dijanjikan nominal tersebut sejak awal. Ini bukan tentang iri hati. Ini tentang rasa keadilan yang tergores. Jika negara mampu membayar tiga juta untuk petugas program baru, mengapa selama ini guru-guru yang sudah mengabdi puluhan tahun masih diperlakukan sebagai "honorer" dengan upah jauh di bawah standar kelayakan?

Ada yang salah dalam sistem kita ketika profesi baru dihargai lebih tinggi daripada profesi yang telah membangun fondasi bangsa selama beberapa dekade. Ada yang timpang ketika program populis mendapat alokasi anggaran yang royal, sementara guru—ujung tombak pendidikan—masih berjuang untuk mendapat pengakuan yang setimpal.

Makan bergizi untuk anak-anak adalah penting, tak ada yang menyangkal itu. Tapi pendidikan yang berkualitas adalah pondasi yang membuat mereka bisa memanfaatkan nutrisi tersebut untuk membangun peradaban. Tanpa guru yang sejahtera, yang dihargai, yang tidak harus memutar otak untuk menyambung hidup dari satu bulan ke bulan lainnya, program apapun hanya akan menjadi tambal sulam tanpa dampak jangka panjang.

Inilah paradoks kita: kita merayakan program-program baru dengan gegap gempita, sambil melupakan mereka yang sudah lama berkorban dalam keheningan. Kita berlomba menciptakan terobosan, sambil mengabaikan fondasi yang retak. Kita sibuk membangun gedung baru, sementara rumah lama yang menopang semuanya dibiarkan lapuk.

Guru honorer dan swasta tidak meminta belas kasihan. Mereka hanya meminta keadilan. Jika negara bisa mengalokasikan tiga juta untuk petugas SPPG, maka sudah saatnya guru-guru yang telah mengabdi mendapat penghargaan yang setara—atau bahkan lebih. Karena merekalah yang membentuk karakter, yang menanamkan nilai, yang mempersiapkan generasi untuk memahami pentingnya gizi, kesehatan, dan kehidupan itu sendiri.

Pertanyaan ini akan terus bergema: kapan pengabdian yang telah terbukti akan dihargai setimpal dengan janji-janji untuk program yang baru akan dimulai? Kapan keadilan akan sampai ke ruang-ruang kelas yang telah lama menanti?


Balada Guru yang Terlupakan

Di sudut kelas yang retak dindingnya,
seorang guru berdiri dengan buku lusuh di tangan,
mengeja masa depan anak bangsa
dengan gaji yang tak cukup untuk mimpi.

Dua puluh tahun ia mengabdi,
kapur menempel di jari-jarinya,
suara serak dari menerangkan berulang,
namun statusnya masih "honorer"—
sebuah kata yang terdengar seperti janji kosong.

Guru swasta di seberang jalan,
tak berbeda nasibnya,
mengajar dengan hati yang sama,
tapi honor sebulan hanya cukup
untuk membayar kontrakan dan nasi seadanya.

Lalu datang kabar angin:
program baru, Makan Bergizi Gratis,
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi—
nama yang panjang untuk harapan baru,
dengan gaji tiga juta untuk para petugasnya.

Tiga juta.

Angka yang membuat guru-guru itu terdiam.
Bukan dengki yang muncul,
tapi heran yang mendalam:
mengapa program yang baru lahir
sudah dijanjikan kelayakan,
sementara mereka yang puluhan tahun mengabdi
masih menunggu pengakuan?

Apakah mengajar anak membaca
kurang mulia dari menyajikan makanan?
Apakah membentuk karakter
kurang penting dari mengukur gizi?

Keduanya sama mulia, tentu saja.
Tapi mengapa penghargaannya berbeda jauh?

Guru itu pulang dengan langkah berat,
membawa tas penuh tugas yang belum diperiksa,
memikirkan tagihan listrik yang menunggak,
dan biaya sekolah anaknya sendiri yang belum terbayar.

Ia tak meminta kemewahan,
hanya keadilan sederhana:
dihargai sebanding dengan pengabdiannya.

Negara ini pandai membuat program,
lihai menciptakan akronim megah,
mahir berjanji perubahan,
tapi sering lupa pada mereka
yang telah puluhan tahun
menjadi tulang punggung pendidikan.

Petugas gizi penting, ya,
anak-anak butuh nutrisi,
tapi anak-anak juga butuh guru
yang tak perlu khawatir soal makan besok,
yang bisa fokus mengajar
tanpa beban mencari sampingan.

Ini bukan soal siapa lebih pantas,
ini soal sistem yang keliru,
yang menghargai yang baru
lebih tinggi dari yang lama,
yang merayakan program
sambil melupakan fondasi.

Berapa lama lagi guru-guru ini harus menunggu?
Berapa tahun lagi pengabdian mereka
akan dianggap sebagai "pengorbanan yang mulia"
alih-alih pekerjaan yang layak dihargai?

Di kelas itu, di pagi yang sama,
guru itu tetap berdiri,
mengajar dengan sepenuh hati,
meski tak ada yang menjanjikan
tiga juta untuknya.

Karena ia guru—
profesi yang sering dilupakan,
tapi tak pernah berhenti berharap
pada keadilan yang mungkin suatu hari
akan datang juga untuknya.

Catatan penutup:
Keadilan bukan soal membandingkan,
tapi soal menghargai yang setara.
Jika ada anggaran untuk yang baru,
sudah pasti ada untuk yang lama—
yang telah membuktikan pengabdiannya
jauh sebelum program itu lahir.

Tiga Aktor dalam Transformasi Pendidikan: AI, Siswa, dan Guru

 

Pengantar

Bayangkan sebuah kelas di mana setiap siswa mendapatkan perhatian personal layaknya les privat, guru memiliki asisten yang tak pernah lelah, dan pembelajaran berlangsung 24 jam sehari. Bukan lagi khayalan—ini adalah realitas yang mulai terbentuk dengan kehadiran kecerdasan buatan (AI) di dunia pendidikan. Namun, di tengah euforia teknologi ini, muncul pertanyaan mendasar: bagaimana sebenarnya AI mengubah relasi antara guru dan siswa? Apakah teknologi ini akan menggantikan peran guru, atau justru memperkuatnya?

AI sebagai Asisten Pembelajaran yang Adaptif

Kecerdasan buatan dalam pendidikan bukan lagi sekadar robot yang mengajar. AI modern seperti ChatGPT, Khan Academy's Khanmigo, atau platform pembelajaran adaptif mampu memahami gaya belajar individual siswa. Ketika seorang siswa kesulitan dengan konsep matematika tertentu, AI dapat mendeteksi pola kesalahan dan menyesuaikan penjelasan dengan cara yang berbeda—menggunakan analogi visual untuk pembelajar visual, atau pendekatan logis bertahap untuk pembelajar analitis.

Sebuah studi menunjukkan bahwa sistem pembelajaran berbasis AI dapat meningkatkan retensi materi hingga 30% karena kemampuannya memberikan umpan balik instan. Bayangkan seorang siswa di pelosok desa yang kini bisa mengakses penjelasan konsep fisika kuantum kapan saja, dengan bahasa yang disesuaikan dengan tingkat pemahamannya. Inilah demokratisasi pengetahuan yang sesungguhnya.

Siswa: Dari Penerima Pasif menjadi Pembelajar Aktif

Generasi siswa saat ini tumbuh di era digital, tetapi AI mengubah mereka dari sekadar konsumen konten menjadi kurator pembelajaran mereka sendiri. Dengan AI, siswa dapat mengeksplorasi minat mereka lebih dalam tanpa terbatas jam pelajaran. Seorang siswa yang tertarik pada astronomi dapat berdialog dengan AI tentang lubang hitam pada pukul 11 malam, mendapatkan penjelasan yang disesuaikan dengan tingkat pengetahuannya.

Namun, ada tantangan besar: ketergantungan. Ketika AI dapat menjawab semua pertanyaan, siswa mungkin kehilangan kemampuan berpikir kritis atau menyelesaikan masalah secara mandiri. Di sinilah literasi digital menjadi krusial. Siswa perlu diajarkan untuk menggunakan AI sebagai alat bantu berpikir, bukan pengganti pemikiran. Mereka harus belajar mengajukan pertanyaan yang tepat, memverifikasi informasi, dan memahami keterbatasan AI.

Guru: Evolusi Peran dari Penyampai Informasi menjadi Mentor

Peran guru mengalami transformasi paling dramatis. Jika sebelumnya guru adalah sumber utama informasi, kini informasi tersedia di mana-mana. Lantas, apa yang membuat guru tetap relevan? Jawabannya: kemanusiaan.

Guru masa depan adalah mentor, fasilitator, dan desainer pengalaman belajar. Mereka menggunakan AI untuk menangani tugas administratif—mengoreksi ujian pilihan ganda, melacak progres siswa, mengidentifikasi yang tertinggal—sehingga memiliki lebih banyak waktu untuk interaksi bermakna. Seorang guru dapat menggunakan data dari AI untuk memahami bahwa Lima berjuang dengan geometri bukan karena malas, tetapi karena memiliki gaya belajar kinestetik yang membutuhkan manipulatif fisik.

Lebih dari itu, guru memberikan sesuatu yang tidak bisa diberikan AI: empati, motivasi, dan keteladanan. Ketika seorang siswa merasa putus asa, algoritma mungkin bisa memberikan kata-kata penyemangat, tetapi tatapan mata guru yang penuh pengertian dan kata-kata "saya percaya padamu" memiliki kekuatan yang berbeda. Guru mengajarkan nilai-nilai, karakter, dan kebijaksanaan yang lahir dari pengalaman hidup—sesuatu yang tidak dapat dikodekan dalam algoritma.

Sinergi Tiga Aktor: Ekosistem Pembelajaran yang Ideal

Masa depan pendidikan bukanlah tentang AI melawan guru, tetapi tentang bagaimana ketiganya—AI, siswa, dan guru—bekerja dalam sinergi. Bayangkan ekosistem ini:

AI menyediakan konten pembelajaran yang dipersonalisasi dan melacak progres individual. Siswa menggunakan AI untuk eksplorasi mandiri, mengerjakan latihan, dan mendapatkan umpan balik instan. Sementara itu, guru menganalisis data dari AI untuk memahami kebutuhan kelas secara keseluruhan dan individual, lalu merancang aktivitas pembelajaran yang mendorong kolaborasi, kreativitas, dan pemikiran kritis—hal-hal yang sulit difasilitasi oleh AI.

Dalam kelas sains, misalnya, AI dapat mengajarkan teori dan konsep dasar melalui video interaktif dan simulasi. Siswa kemudian datang ke kelas dengan pemahaman dasar, dan guru memfasilitasi eksperimen nyata, diskusi etis tentang aplikasi sains, atau proyek kolaboratif yang menghubungkan sains dengan isu-isu sosial. Ini adalah pembelajaran yang holistik.

Tantangan dan Pertimbangan Etis

Tentu saja, integrasi AI dalam pendidikan tidak tanpa masalah. Kesenjangan digital masih lebar—tidak semua sekolah memiliki akses internet yang memadai, apalagi perangkat untuk setiap siswa. Ada kekhawatiran tentang privasi data siswa yang dikumpulkan oleh sistem AI. Bias dalam algoritma juga menjadi isu serius; jika data pelatihan AI mengandung bias, sistem akan mereproduksi bias tersebut dalam rekomendasi pembelajaran.

Guru juga membutuhkan pelatihan untuk mengintegrasikan AI secara efektif. Tidak cukup hanya menaruh teknologi di kelas; guru perlu memahami cara kerjanya, potensinya, dan keterbatasannya. Investasi dalam pengembangan profesional guru menjadi sama pentingnya dengan investasi dalam teknologi itu sendiri.

Penutup: Menuju Pendidikan yang Lebih Humanis

Paradoksnya, kehadiran AI dalam pendidikan justru mengingatkan kita tentang apa yang paling manusiawi dalam proses belajar-mengajar. Ketika mesin dapat menangani aspek teknis pembelajaran, kita dipaksa untuk mendefinisikan ulang nilai sejati pendidikan: bukan sekadar transfer informasi, tetapi pembentukan karakter, pengembangan pemikiran kritis, dan pemberdayaan individu untuk berkontribusi pada masyarakat.

AI adalah alat yang sangat powerful, siswa adalah protagonis dalam perjalanan pembelajaran mereka sendiri, dan guru adalah pemandu yang bijaksana. Ketika ketiga aktor ini berkolaborasi dengan baik, kita tidak hanya menciptakan sistem pendidikan yang lebih efisien, tetapi juga lebih humanis—sistem yang mengakui keunikan setiap individu sambil mempersiapkan mereka untuk masa depan yang terus berubah.

Pertanyaannya bukan lagi apakah kita akan mengadopsi AI dalam pendidikan, tetapi bagaimana kita melakukannya dengan bijaksana. Dan dalam perjalanan itu, peran guru sebagai kompas moral dan intelektual menjadi lebih krusial dari sebelumnya.

Kurikulum Cinta dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti SMP Fase D: Analisis Kelebihan, Kelemahan, dan Implementasi


Pendahuluan

Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti (PAI-BP) memiliki peran strategis dalam membentuk karakter peserta didik yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kecerdasan spiritual dan emosional. Dalam Kurikulum Merdeka Fase D (kelas VII-IX SMP), muncul konsep "Kurikulum Cinta" yang menekankan pendekatan pembelajaran berbasis kasih sayang, empati, dan nilai-nilai kemanusiaan yang berlandaskan ajaran Islam. Konsep ini menjadi paradigma baru dalam mengajarkan agama, tidak semata-mata sebagai hafalan dan ritual, tetapi sebagai nilai yang menginternalisasi cinta kepada Allah, sesama manusia, dan alam semesta (Muhaimin, 2012).

Kurikulum Cinta dalam konteks PAI-BP SMP merupakan upaya transformatif untuk menjawab tantangan modernisasi yang menghadirkan krisis moral, individualisme, dan degradasi nilai-nilai kemanusiaan di kalangan remaja (Megawangi, 2004). Fase D menjadi momentum krusial karena peserta didik berada pada masa transisi dari anak-anak menuju remaja, di mana pembentukan identitas diri dan nilai moral sangat penting (Erikson, 1968).

Konseptualisasi Kurikulum Cinta dalam PAI-BP

Kurikulum Cinta dalam pembelajaran PAI-BP merujuk pada pendekatan pedagogis yang menempatkan nilai-nilai kasih sayang (rahmah) sebagai inti dari seluruh proses pembelajaran. Konsep ini berakar pada ajaran Islam tentang "rahmatan lil 'alamin" (rahmat bagi seluruh alam), di mana cinta menjadi fondasi dalam beribadah, berinteraksi sosial, dan menjalani kehidupan (Nata, 2016).

Dalam konteks Fase D, Kurikulum Cinta dioperasionalisasi melalui tiga dimensi utama: pertama, cinta vertikal (mahabbatullah) yang mengajarkan peserta didik untuk mencintai Allah melalui pemahaman mendalam tentang kebesaran-Nya, bukan karena takut semata; kedua, cinta horizontal (mahabbah li al-insan) yang menekankan empati, toleransi, dan kasih sayang terhadap sesama manusia tanpa memandang perbedaan; ketiga, cinta terhadap alam (mahabbah li al-kawn) yang mengajarkan tanggung jawab ekologis sebagai bagian dari ibadah (Daradjat, 2008).

Landasan Teoretis dan Normatif

Secara normatif, Kurikulum Cinta berlandaskan pada ayat-ayat Al-Qur'an yang menekankan kasih sayang, seperti QS. Al-Hujurat: 13 tentang keberagaman sebagai rahmat, QS. Al-Anbiya: 107 tentang Rasulullah sebagai rahmat, dan hadis-hadis Nabi yang menekankan pentingnya cinta dan kasih sayang dalam kehidupan (Al-Qur'an dan Terjemahnya, Kementerian Agama RI, 2019).

Secara teoretis, pendekatan ini sejalan dengan teori pembelajaran konstruktivisme sosial Vygotsky yang menekankan pentingnya interaksi sosial yang bermakna (Vygotsky, 1978), serta teori kecerdasan emosional Daniel Goleman yang menempatkan empati dan kesadaran sosial sebagai kompetensi krusial (Goleman, 1995). Dalam perspektif pendidikan Islam, konsep ini selaras dengan pemikiran Al-Ghazali tentang pendidikan hati (tarbiyah al-qalb) yang mendahului pendidikan akal (Al-Ghazali, 2003).

Kelebihan Kurikulum Cinta dalam Pembelajaran PAI-BP SMP

1. Humanisasi Pembelajaran Agama

Kurikulum Cinta menggeser paradigma pembelajaran PAI dari yang cenderung doktriner dan tekstual menjadi lebih humanis dan kontekstual (Freire, 2000). Peserta didik tidak lagi melihat agama sebagai seperangkat aturan yang kaku, tetapi sebagai nilai yang memberikan makna dan kebahagiaan dalam hidup. Pendekatan ini mencegah terjadinya alienasi antara nilai agama dengan kehidupan sehari-hari remaja (Mujib & Mudzakkir, 2008).

2. Pengembangan Karakter Holistik

Melalui internalisasi nilai cinta, peserta didik mengembangkan karakter yang seimbang antara dimensi kognitif, afektif, dan psikomotorik. Mereka tidak hanya memahami konsep teologis secara intelektual, tetapi juga merasakan dan mengamalkannya dalam perilaku nyata (Lickona, 1991). Hal ini sangat relevan dengan Profil Pelajar Pancasila yang menekankan akhlak mulia dan kebinekaan global (Kemendikbudristek, 2022).

3. Pencegahan Radikalisme dan Intoleransi

Pendekatan cinta yang menekankan rahmah dan toleransi menjadi benteng efektif terhadap paham-paham ekstrem yang sering menyasar generasi muda (Azra, 2002). Peserta didik belajar bahwa esensi Islam adalah kedamaian dan kasih sayang, bukan kekerasan atas nama agama. Mereka diajak untuk menghormati perbedaan sebagai sunnatullah (Shihab, 2007).

4. Meningkatkan Motivasi dan Keterlibatan Belajar

Pembelajaran yang menyenangkan dan penuh kasih sayang menciptakan iklim kelas yang kondusif. Peserta didik merasa diterima dan dihargai, sehingga lebih termotivasi untuk belajar (Deci & Ryan, 2000). Pendekatan ini mengurangi kecemasan dan tekanan psikologis yang sering dialami siswa dalam pembelajaran konvensional (Noddings, 2005).

5. Relevansi dengan Perkembangan Psikologis Remaja

Fase D (usia 13-15 tahun) adalah masa pencarian identitas dan kebutuhan akan afeksi (Santrock, 2011). Kurikulum Cinta menjawab kebutuhan psikologis ini dengan memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengekspresikan emosi, membangun relasi yang sehat, dan menemukan makna spiritual yang autentik (Yusuf, 2014).

Kelemahan dan Tantangan Implementasi

1. Ambiguitas Konseptual

Konsep "cinta" dalam konteks kurikulum masih bersifat abstrak dan multitafsir. Tanpa operasionalisasi yang jelas, guru dapat mengalami kebingungan dalam menerjemahkan konsep filosofis ini ke dalam aktivitas pembelajaran konkret (Mulyasa, 2013). Diperlukan pedoman implementasi yang lebih terstruktur dan terukur.

2. Kesenjangan Kompetensi Guru

Tidak semua guru PAI memiliki kompetensi pedagogis dan emosional untuk menerapkan Kurikulum Cinta. Banyak guru yang terbiasa dengan metode pembelajaran konvensional yang berpusat pada hafalan dan ceramah (Majid, 2014). Transformasi mindset dan upgrading kompetensi guru menjadi tantangan besar yang memerlukan investasi waktu dan sumber daya (Sanjaya, 2016).

3. Resistensi Budaya Pembelajaran

Tradisi pembelajaran PAI yang cenderung otoriter dan mengedepankan disiplin ketat dapat bertentangan dengan pendekatan Kurikulum Cinta yang lebih demokratis dan dialogis (Tilaar, 2002). Sebagian stakeholder, termasuk orang tua, mungkin menganggap pendekatan ini terlalu permisif dan tidak cukup tegas dalam menanamkan nilai-nilai agama.

4. Tantangan Asesmen

Mengukur pencapaian pembelajaran yang berbasis nilai cinta dan karakter jauh lebih kompleks dibandingkan mengukur pengetahuan kognitif. Instrumen asesmen yang ada sering kali belum mampu menangkap dimensi afektif dan spiritual secara komprehensif (Wiggins & McTighe, 2005). Diperlukan pengembangan rubrik asesmen yang lebih holistik dan autentik.

5. Keterbatasan Waktu dan Sumber Daya

Pembelajaran yang menekankan proses internalisasi nilai memerlukan waktu lebih banyak dibandingkan transfer pengetahuan. Dengan alokasi waktu PAI yang terbatas (2-3 jam pelajaran per minggu), guru menghadapi dilema antara mengejar target materi dan memfasilitasi proses penghayatan nilai secara mendalam (Tafsir, 2010).

6. Konteks Sosial yang Kontraproduktif

Lingkungan sosial peserta didik, baik di rumah maupun di media sosial, tidak selalu mendukung nilai-nilai cinta dan kasih sayang yang diajarkan di sekolah. Paparan terhadap kekerasan, ujaran kebencian, dan kompetisi yang tidak sehat dapat mengikis nilai-nilai yang ditanamkan melalui Kurikulum Cinta (Prensky, 2001).

Strategi Implementasi dalam Pembelajaran PAI-BP SMP

1. Redesain Capaian Pembelajaran dan Tujuan Pembelajaran

Guru perlu merumuskan ulang Capaian Pembelajaran (CP) dan Tujuan Pembelajaran (TP) agar mengintegrasikan dimensi cinta secara eksplisit (Anderson & Krathwohl, 2001). Misalnya, dalam materi tentang zakat, selain memahami konsep dan hukum zakat (kognitif), siswa juga diharapkan merasakan empati terhadap orang yang membutuhkan (afektif) dan tergerak untuk berbagi (psikomotorik).

2. Penerapan Metode Pembelajaran Aktif dan Afektif

Beberapa metode yang dapat diterapkan meliputi: pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) yang mengajak siswa terlibat langsung dalam kegiatan sosial (Thomas, 2000); role playing dan simulasi yang membantu siswa memahami perspektif orang lain (Sharan, 2010); circle time dan sharing session untuk berbagi pengalaman spiritual; serta pembelajaran reflektif yang mendorong siswa menghubungkan materi dengan pengalaman hidup mereka (Schön, 1983).

3. Penciptaan Lingkungan Belajar yang Penuh Kasih Sayang

Guru perlu menciptakan classroom culture yang aman secara psikologis, di mana peserta didik merasa bebas bertanya, berbeda pendapat, dan mengekspresikan perasaan tanpa takut dihakimi (Korthagen, 2004). Penggunaan bahasa yang afirmatif, penghargaan terhadap keberagaman, dan pengelolaan konflik yang konstruktif menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan belajar yang mendukung.

4. Integrasi Teknologi dan Media Kreatif

Pemanfaatan multimedia, video inspiratif, podcast dakwah yang menyejukkan, dan platform pembelajaran digital dapat membuat pembelajaran PAI lebih menarik bagi generasi Z yang merupakan digital native (Oblinger & Oblinger, 2005). Teknologi juga memungkinkan pembelajaran yang lebih personal dan sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing siswa (Tapscott, 2009).

5. Kemitraan dengan Keluarga dan Komunitas

Implementasi Kurikulum Cinta tidak dapat berjalan efektif tanpa dukungan keluarga dan masyarakat. Sekolah perlu membangun komunikasi intensif dengan orang tua, melibatkan tokoh agama lokal, dan berkolaborasi dengan organisasi masyarakat sipil untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang koheren dan saling menguatkan (Epstein, 2001).

6. Pengembangan Asesmen Autentik

Asesmen tidak hanya mengukur pengetahuan melalui tes tertulis, tetapi juga mengobservasi perubahan perilaku, menggunakan jurnal refleksi, portofolio karya siswa, penilaian sejawat, dan self-assessment (Earl, 2003). Asesmen formatif yang berkelanjutan lebih ditekankan untuk memantau perkembangan karakter siswa secara holistik (Black & Wiliam, 1998).

Contoh Konkret Penerapan dalam Materi PAI Fase D

Materi: Kasih Sayang dan Kepedulian Sosial dalam Islam

Aktivitas Pembelajaran:

  • Fase Orientasi: Siswa menonton video kisah inspiratif tentang tokoh muslim yang dikenal karena kepedulian sosialnya, kemudian mendiskusikan perasaan yang muncul dan pelajaran yang dapat diambil.
  • Fase Eksplorasi: Siswa membaca dan menganalisis ayat-ayat Al-Qur'an dan hadis tentang kasih sayang, kemudian mengidentifikasi nilai-nilai universal yang terkandung di dalamnya.
  • Fase Elaborasi: Dalam kelompok kecil, siswa merancang proyek sosial sederhana untuk membantu kelompok rentan di sekitar sekolah (misalnya: mengumpulkan buku untuk perpustakaan desa, mengunjungi panti asuhan, atau mengadakan bazar untuk penggalangan dana).
  • Fase Evaluasi: Siswa mempresentasikan proyek mereka, merefleksikan pengalaman emosional dan spiritual yang dialami, serta menulis jurnal refleksi tentang bagaimana kegiatan tersebut mengubah pandangan mereka tentang makna beribadah.

Peran Stakeholder dalam Kesuksesan Implementasi

Kesuksesan implementasi Kurikulum Cinta memerlukan sinergi berbagai pihak. Pemerintah perlu menyediakan kebijakan yang mendukung, pelatihan guru yang berkelanjutan, dan anggaran yang memadai. Kepala sekolah berperan sebagai pemimpin pembelajaran yang menciptakan visi bersama dan mendorong inovasi (Fullan, 2001). Guru PAI menjadi agen perubahan yang menginspirasi melalui keteladanan. Orang tua berperan sebagai mitra yang konsisten menerapkan nilai-nilai di rumah. Sementara siswa sendiri adalah subjek aktif yang mengonstruksi pemahaman dan mengaktualisasikan nilai cinta dalam kehidupan nyata (Dewey, 1938).

Kesimpulan

Kurikulum Cinta dalam pembelajaran PAI-BP SMP Fase D menawarkan paradigma transformatif yang menempatkan nilai kasih sayang sebagai inti dari pendidikan agama. Pendekatan ini memiliki kelebihan signifikan dalam humanisasi pembelajaran, pengembangan karakter holistik, pencegahan radikalisme, peningkatan motivasi belajar, dan kesesuaian dengan kebutuhan psikologis remaja.

Namun demikian, implementasinya menghadapi berbagai tantangan, mulai dari ambiguitas konseptual, kesenjangan kompetensi guru, resistensi budaya pembelajaran, hingga keterbatasan sumber daya. Tantangan-tantangan ini bukanlah hambatan yang tidak dapat diatasi, melainkan memerlukan strategi implementasi yang sistematis, komprehensif, dan berkelanjutan.

Keberhasilan Kurikulum Cinta bergantung pada komitmen seluruh stakeholder untuk keluar dari zona nyaman pembelajaran konvensional dan berani melakukan inovasi. Diperlukan investasi dalam pengembangan kompetensi guru, penyediaan sumber daya pembelajaran yang memadai, penciptaan ekosistem pendidikan yang mendukung, dan konsistensi dalam penerapan nilai-nilai di semua lini kehidupan.

Pada akhirnya, Kurikulum Cinta bukan semata-mata tentang metode atau teknik pembelajaran, tetapi tentang transformasi fundamental dalam cara kita memahami esensi pendidikan agama. Ketika siswa belajar agama dengan hati yang penuh cinta, mereka tidak hanya menjadi muslim yang taat secara ritualistik, tetapi menjadi manusia yang berakhlak mulia, penuh empati, dan berkontribusi positif bagi peradaban. Inilah sesungguhnya tujuan tertinggi dari pendidikan Islam yang sejati.


Daftar Pustaka

Al-Ghazali, I. (2003). Ihya Ulumuddin. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah.

Anderson, L. W., & Krathwohl, D. R. (Eds.). (2001). A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assessing: A Revision of Bloom's Taxonomy of Educational Objectives. New York: Longman.

Azra, A. (2002). Paradigma Baru Pendidikan Nasional: Rekonstruksi dan Demokratisasi. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Black, P., & Wiliam, D. (1998). Assessment and Classroom Learning. Assessment in Education: Principles, Policy & Practice, 5(1), 7-74.

Daradjat, Z. (2008). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.

Deci, E. L., & Ryan, R. M. (2000). The "What" and "Why" of Goal Pursuits: Human Needs and the Self-Determination of Behavior. Psychological Inquiry, 11(4), 227-268.

Dewey, J. (1938). Experience and Education. New York: Macmillan.

Earl, L. M. (2003). Assessment as Learning: Using Classroom Assessment to Maximize Student Learning. Thousand Oaks, CA: Corwin Press.

Epstein, J. L. (2001). School, Family, and Community Partnerships: Preparing Educators and Improving Schools. Boulder, CO: Westview Press.

Erikson, E. H. (1968). Identity: Youth and Crisis. New York: W.W. Norton & Company.

Freire, P. (2000). Pedagogy of the Oppressed (30th Anniversary Edition). New York: Continuum.

Fullan, M. (2001). Leading in a Culture of Change. San Francisco: Jossey-Bass.

Goleman, D. (1995). Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ. New York: Bantam Books.

Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Al-Qur'an dan Terjemahnya. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an.

Kemendikbudristek. (2022). Panduan Pengembangan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Korthagen, F. A. J. (2004). In Search of the Essence of a Good Teacher: Towards a More Holistic Approach in Teacher Education. Teaching and Teacher Education, 20(1), 77-97.

Lickona, T. (1991). Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. New York: Bantam Books.

Majid, A. (2014). Pembelajaran Tematik Terpadu. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Megawangi, R. (2004). Pendidikan Karakter: Solusi yang Tepat untuk Membangun Bangsa. Jakarta: Indonesia Heritage Foundation.

Muhaimin. (2012). Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Mujib, A., & Mudzakkir, J. (2008). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana Prenada Media.

Mulyasa, E. (2013). Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Nata, A. (2016). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Noddings, N. (2005). The Challenge to Care in Schools: An Alternative Approach to Education (2nd ed.). New York: Teachers College Press.

Oblinger, D. G., & Oblinger, J. L. (Eds.). (2005). Educating the Net Generation. Washington, DC: EDUCAUSE.

Prensky, M. (2001). Digital Natives, Digital Immigrants. On the Horizon, 9(5), 1-6.

Sanjaya, W. (2016). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Santrock, J. W. (2011). Life-Span Development (13th ed.). New York: McGraw-Hill.

Schön, D. A. (1983). The Reflective Practitioner: How Professionals Think in Action. New York: Basic Books.

Sharan, Y. (2010). Cooperative Learning for Academic and Social Gains: Valued Pedagogy, Problematic Practice. European Journal of Education, 45(2), 300-313.

Shihab, M. Q. (2007). Wawasan Al-Quran: Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat. Bandung: Mizan.

Tafsir, A. (2010). Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Tapscott, D. (2009). Grown Up Digital: How the Net Generation is Changing Your World. New York: McGraw-Hill.

Thomas, J. W. (2000). A Review of Research on Project-Based Learning. San Rafael, CA: Autodesk Foundation.

Tilaar, H. A. R. (2002). Perubahan Sosial dan Pendidikan: Pengantar Pedagogik Transformatif untuk Indonesia. Jakarta: Grasindo.

Vygotsky, L. S. (1978). Mind in Society: The Development of Higher Psychological Processes. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Wiggins, G., & McTighe, J. (2005). Understanding by Design (Expanded 2nd ed.). Alexandria, VA: Association for Supervision and Curriculum Development.

Yusuf, S. (2014). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.