Jumat, 30 Januari 2026

Ketika Hormat Terkikis

Di ruang kelas yang dulu penuh senyum,

Kini terselip luka yang membisu,

Tangan yang seharusnya menulis cita,

Terangkat—memukul sang pemberi cahaya.


Apa yang telah pudar dari jiwa muda ini?

Rasa hormat yang dulu tegak berdiri,

Kini luruh seperti daun di musim kering,

Meninggalkan tangkai yang rapuh dan sepi.


Guru yang berdiri dengan sabar dan lelah,

Membawa ilmu di pundak yang membungkuk,

Kini harus menerima kepalan amarah,

Dari tangan yang ia coba untuk bentuk.


Bukan semata salah sang murid,

Bukan pula hanya guru yang lalai,

Ini cermin masyarakat yang sakit,

Dimana nilai-nilai telah tergerai.


Rumah yang tak lagi ajarkan budi,

Layar yang lebih keras dari bimbingan,

Tekanan yang membelit jiwa remaja,

Hingga amarah jadi satu-satunya jalan.


Namun masih ada harapan tersisa,

Untuk memulihkan yang telah retak,

Dengan dialog, empati, dan kasih sayang,

Kita rajut kembali benang yang putus.


Mari kita renungkan bersama,

Apa yang hilang dari pendidikan kita?

Agar ruang kelas kembali jadi taman,

Tempat hormat dan ilmu tumbuh bersama.


---

Puisi ini mencoba merefleksikan fenomena yang memprihatinkan terhadap kasus di sebuah sekolah di mana murid memukul gurunya sebagai masalah sistemik yang kompleks—melibatkan keluarga, pendidikan, dan masyarakat—sambil tetap menyisakan harapan untuk perbaikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar