Ketika hati gulanda tak tau arah
dan malam terasa lebih panjang dari biasa,
kuucap pelan dari dasar dada:
hasbunallah wa ni’mal wakil.
Cukuplah Allah bagiku.
Bukan karena aku tak lagi takut,
tetapi karena aku tahu
ada yang lebih besar dari semua ketakutanku.
Api boleh menyala,
badai boleh bertamu,
dunia boleh menutup satu per satu pintunya,
namun satu pintu tak pernah terkunci:
pintu doa, pintu pasrah, pintu pulang kepada-Nya.
Maka kutitipkan resahku pada Sang Maha Penjaga,
kuserahkan lelahku pada Sang Maha Penolong.
Dan hatiku, yang tadi gemetar,
perlahan belajar tenang.
Sebaik-baik pelindung.
Cukuplah Dia.
Cukuplah Yang Maha Esa.
Hasbunallah ucapan keyakinan
Penenang jiwa di kala cobaan
Saat hati dirundung kegelisahan
Kepada-Nya ku serahkan
Kala jiwa lusuh hati bergemuruh
Harap Imanku makin teguh
Hasbunallah diucap dengan hati penuh
Rasakan dzikir itu dengan nikmat, tanpa keluh
Ni’mal wakil sebaik-baik pelindung
Tempat bersandar hati yang bingung
Janganlah lama jiwa termurung
Sebab pertolongan datang dari Yang Agung
Ikhtiar dulu dengan sepenuh akal
Doa dipanjatkan hati bertawakal
Hasbunallah menjadi bekal
Menuju ridha-Nya yang kekal
