Setiap tahun, umat Islam di berbagai belahan dunia menyambut malam Nisfu Sya'ban dengan penuh khidmat. Malam yang jatuh pada tanggal 15 Sya'ban ini dipercaya memiliki keistimewaan tersendiri dalam tradisi keislaman, meskipun pemahaman dan praktiknya beragam di berbagai komunitas Muslim.
Kata "nisfu" dalam bahasa Arab berarti "pertengahan" atau "setengah", sehingga Nisfu Sya'ban secara harfiah bermakna pertengahan bulan Sya'ban. Bulan Sya'ban sendiri adalah bulan kedelapan dalam kalender Hijriah, tepat sebelum bulan Ramadan yang penuh berkah. Posisi bulan Sya'ban ini menjadikannya semacam masa transisi spiritual, di mana umat Islam mulai mempersiapkan diri menyongsong bulan suci.
Dalam berbagai hadis yang diriwayatkan, disebutkan bahwa Rasulullah SAW memperbanyak puasa di bulan Sya'ban. Aisyah RA pernah berkata bahwa ia tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa pada suatu bulan lebih banyak daripada bulan Sya'ban. Meskipun demikian, para ulama berbeda pendapat mengenai keutamaan khusus malam Nisfu Sya'ban itu sendiri. Sebagian ulama berpandangan bahwa malam ini memiliki keutamaan berdasarkan beberapa hadis, sementara yang lain lebih berhati-hati dalam menyikapinya.
Di Indonesia dan beberapa negara Asia Tenggara lainnya, peringatan Nisfu Sya'ban telah menjadi bagian dari tradisi keagamaan yang mengakar. Malam ini sering diisi dengan berbagai aktivitas spiritual seperti shalat malam, membaca Al-Quran, berdoa, dan berdzikir. Banyak masjid mengadakan pengajian khusus, dan tidak sedikit yang melakukan puasa sunah pada siangnya. Tradisi berkumpul bersama keluarga sambil mengirim doa untuk leluhur yang telah meninggal juga menjadi ciri khas peringatan ini di tanah air.
Salah satu kepercayaan yang berkembang adalah bahwa pada malam Nisfu Sya'ban, Allah SWT menentukan nasib dan rezeki hamba-Nya untuk tahun mendatang. Meskipun pandangan ini tidak disepakati oleh semua ulama, namun hal tersebut mendorong banyak orang untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah dan taubat.
Yang menarik, cara peringatan Nisfu Sya'ban bervariasi sesuai dengan konteks budaya lokal. Di Timur Tengah, peringatan ini cenderung lebih sederhana. Sementara di Asia Selatan dan Asia Tenggara, malam ini diperingati dengan lebih meriah, bahkan ada tradisi membagikan makanan kepada tetangga dan kaum dhuafa sebagai bentuk sedekah.
## Amalan di Malam Nisfu Sya'ban
Bagi umat Islam yang ingin memperingati malam Nisfu Sya'ban, terdapat beberapa amalan yang dapat dilakukan. Perlu dicatat bahwa para ulama memiliki pandangan yang beragam mengenai amalan-amalan khusus di malam ini, namun secara umum ibadah-ibadah yang dianjurkan adalah yang bersifat umum dan tidak bertentangan dengan syariat.
**Shalat Malam (Qiyamul Lail)** menjadi amalan utama yang dianjurkan. Shalat tahajud atau shalat malam dapat dilakukan dengan jumlah rakaat sesuai kemampuan, umumnya dilakukan sebanyak 8 hingga 12 rakaat dengan salam setiap dua rakaat. Shalat malam ini dapat diisi dengan bacaan Al-Quran yang panjang dan doa-doa yang khusyuk. Waktu terbaik untuk melaksanakannya adalah di sepertiga malam terakhir, ketika Allah SWT turun ke langit dunia dan mengabulkan doa hamba-Nya.
**Membaca Al-Quran** dengan tadarus atau tilawah menjadi amalan yang sangat dianjurkan. Beberapa orang memilih untuk membaca surat-surat tertentu seperti Surat Yasin, Al-Mulk, atau Al-Waqi'ah. Ada juga yang berusaha mengkhatamkan Al-Quran atau minimal membaca beberapa juz sesuai kemampuan. Membaca Al-Quran dengan perenungan akan makna ayat-ayatnya dapat menjadi sarana untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah.
**Berdzikir dan bertasbih** merupakan amalan yang ringan namun penuh berkah. Dzikir dapat dilakukan dengan berbagai bentuk, seperti membaca tasbih (Subhanallah), tahmid (Alhamdulillah), takbir (Allahu Akbar), dan tahlil (La ilaha illallah). Membaca istighfar atau kalimat memohon ampun kepada Allah juga sangat dianjurkan, mengingat tidak ada manusia yang luput dari dosa dan kesalahan.
**Berdoa** dengan sungguh-sungguh adalah inti dari ibadah di malam ini. Doa dapat dipanjatkan untuk berbagai hajat, baik untuk diri sendiri, keluarga, maupun umat Islam secara keseluruhan. Memohon ampunan atas segala dosa, meminta keberkahan rezeki, kesehatan, dan keselamatan di dunia dan akhirat. Doa untuk orang tua dan kerabat yang telah meninggal juga menjadi tradisi yang baik untuk dilakukan.
**Puasa sunah** pada tanggal 13, 14, dan 15 Sya'ban (ayyamul bidh) atau khusus pada tanggal 15 Sya'ban merupakan amalan yang banyak dilakukan. Puasa di bulan Sya'ban juga merupakan bentuk persiapan menghadapi puasa Ramadan, sebagaimana yang dipraktikkan oleh Rasulullah SAW yang memperbanyak puasa di bulan ini.
**Sedekah dan berbagi** kepada sesama, terutama kepada fakir miskin dan anak yatim, menjadi amalan yang memiliki pahala besar. Tradisi membagikan makanan kepada tetangga atau mengadakan kenduri sederhana sambil berdoa bersama telah menjadi budaya positif di banyak komunitas Muslim. Sedekah tidak harus dalam bentuk materi, tetapi juga bisa berupa waktu, tenaga, atau sekadar senyuman dan kata-kata yang baik.
**Bertaubat dan muhasabah** atau introspeksi diri adalah amalan spiritual yang sangat penting. Malam Nisfu Sya'ban dapat dijadikan momentum untuk merenungkan kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat, bertaubat dengan sungguh-sungguh, dan berkomitmen untuk memperbaiki diri. Muhasabah juga mencakup evaluasi terhadap ibadah dan amal yang telah dilakukan serta merencanakan perbaikan untuk masa mendatang.
**Memperbaiki hubungan dengan sesama** juga menjadi bagian penting dari amalan di malam ini. Memaafkan orang yang pernah menyakiti, meminta maaf kepada yang pernah kita lukai, dan mempererat silaturahmi adalah bentuk kebersihan hati yang akan membuat ibadah kita lebih diterima oleh Allah SWT.
## Amalan Nahdliyin (NU) pada Malam Nisfu Sya'ban
Nahdlatul Ulama (NU), sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, memiliki tradisi khas dalam memperingati malam Nisfu Sya'ban yang telah mengakar dalam kehidupan warga nahdliyin. Tradisi ini merupakan perpaduan antara ajaran agama dengan kearifan lokal Nusantara yang telah dipraktikkan turun-temurun.
**Tahlilan dan Yasinan Bersama** merupakan tradisi yang sangat kental dalam kalangan Nahdliyin. Di malam Nisfu Sya'ban, warga NU biasanya berkumpul di masjid, mushalla, atau rumah-rumah warga untuk melakukan tahlil dan membaca Surat Yasin secara bersama-sama. Acara ini dipimpin oleh seorang kiai atau ustadz setempat. Pembacaan tahlil dilakukan dengan khidmat, diikuti dengan pembacaan Surat Yasin yang diniatkan untuk arwah orang tua, keluarga, para ulama, dan kaum muslimin yang telah meninggal. Tradisi ini didasarkan pada anjuran untuk mendoakan orang yang telah wafat, sebagaimana disebutkan dalam berbagai hadis tentang kemanfaatan doa untuk mayit.
**Membaca Ratib al-Haddad** adalah amalan khas yang sering dilakukan oleh kalangan Nahdliyin. Ratib al-Haddad merupakan kumpulan wirid dan doa yang disusun oleh Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad, seorang ulama besar dari Hadramaut, Yaman. Ratib ini berisi ayat-ayat Al-Quran, dzikir, shalawat, dan doa-doa pilihan yang dibaca secara berjamaah. Di malam Nisfu Sya'ban, pembacaan Ratib al-Haddad dilakukan dengan penuh khusyuk sebagai sarana taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT.
**Pembacaan Surah Yasin Tiga Kali** dengan niat berbeda merupakan tradisi yang populer di kalangan Nahdliyin. Yasin pertama dibaca dengan niat untuk panjang umur dan kesehatan, Yasin kedua untuk kemudahan rezeki dan kelancaran urusan, dan Yasin ketiga untuk husnul khatimah (akhir yang baik) dan keselamatan di akhirat. Meskipun tidak ada dalil khusus tentang pembacaan Yasin tiga kali ini, namun tradisi ini dianggap sebagai bentuk tawassul dan berharap keberkahan dari kandungan Surat Yasin yang memang memiliki banyak keutamaan.
**Shalat Sunah Khusus Nisfu Sya'ban** yang dalam tradisi NU sering disebut sebagai "shalat Nisfu Sya'ban" dilakukan dengan berbagai variasi rakaat. Ada yang melakukan 20 rakaat, 100 rakaat, atau bahkan lebih, dengan salam setiap dua rakaat. Setiap rakaat dibaca Surat al-Fatihah dan surat-surat pilihan. Meskipun terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai shalat khusus ini, kalangan NU yang mengikuti mazhab Syafi'i menganggapnya sebagai amalan yang diperbolehkan berdasarkan pendapat sebagian ulama yang membolehkan shalat sunah mutlak di malam-malam yang dianggap istimewa.
**Pembacaan Manaqib dan Barzanji** juga menjadi bagian dari tradisi Nahdliyin di malam Nisfu Sya'ban. Manaqib adalah pembacaan riwayat hidup dan kemuliaan para wali Allah, khususnya Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Sementara Barzanji atau Maulid Barzanji adalah pembacaan kisah kelahiran Nabi Muhammad SAW yang disusun oleh Syekh Ja'far al-Barzanji. Kedua amalan ini dibaca secara berjamaah dengan irama yang khas, diselingi dengan shalawat kepada Nabi. Tradisi ini bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan kepada Nabi dan para wali, serta mengambil teladan dari kehidupan mereka.
**Ziarah Kubur** merupakan amalan penting yang dilakukan oleh warga Nahdliyin menjelang atau pada malam Nisfu Sya'ban. Para jamaah mengunjungi makam keluarga, kerabat, serta makam para ulama dan tokoh agama setempat. Di sana mereka membaca tahlil, Surat al-Fatihah, ayat Kursi, dan doa-doa untuk arwah yang dikunjungi. Ziarah kubur ini didasarkan pada hadis Nabi yang menganjurkan ziarah kubur karena dapat mengingatkan tentang kematian dan akhirat. Tradisi ini juga menjadi wujud penghormatan kepada leluhur dan para pendahulu yang telah berjasa.
**Kenduri atau Selamatan** adalah tradisi sosial keagamaan yang sangat kental dalam budaya Nahdliyin. Di malam atau siang hari tanggal 15 Sya'ban, keluarga-keluarga mengadakan kenduri dengan menyiapkan makanan yang kemudian dibagikan kepada tetangga dan para jamaah yang hadir. Acara kenduri biasanya diawali dengan pembacaan doa, tahlil, dan ceramah singkat tentang makna Nisfu Sya'ban. Kenduri ini bukan hanya sebagai bentuk ibadah, tetapi juga sebagai media silaturahmi dan penguatan ikatan sosial dalam masyarakat.
**Membaca Shalawat Nariyah, Shalawat Badar, dan Shalawat Lainnya** menjadi amalan khas yang diperbanyak di malam Nisfu Sya'ban. Warga NU sangat mengagungkan pembacaan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, dan malam istimewa seperti ini menjadi momentum untuk memperbanyaknya. Shalawat Nariyah dibaca untuk berbagai hajat, sementara Shalawat Badar dibaca untuk memohon pertolongan Allah. Pembacaan shalawat ini sering dilakukan secara berjamaah dengan jumlah tertentu, seperti 1000 kali atau 4444 kali.
**Khataman Al-Quran Bersama** di masjid atau mushalla juga menjadi agenda rutin di malam Nisfu Sya'ban. Para jamaah membagi juz-juz Al-Quran untuk dibaca bersama-sama sehingga dalam satu malam bisa khatam 30 juz. Setelah khatam, dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin oleh kiai atau ustadz. Khataman ini bertujuan untuk mendapatkan keberkahan dari pembacaan Al-Quran secara lengkap dan doa bersama-sama.
**Istighatsah atau Doa Bersama** merupakan tradisi penting dalam kalangan NU. Di malam Nisfu Sya'ban, istighatsah dilakukan dengan memohon pertolongan Allah dari segala kesulitan, bencana, dan marabahaya. Istighatsah dipimpin oleh kiai dengan membaca dzikir, wirid, dan doa-doa tertentu yang kemudian diamini oleh jamaah. Acara ini biasanya sangat khusyuk dan penuh penghayatan.
**Membaca Doa Kanzul Arsy** atau doa-doa pilihan lainnya yang terdapat dalam kitab-kitab do'a klasik juga menjadi amalan yang dipraktikkan. Doa Kanzul Arsy adalah doa yang sangat agung dalam tradisi tasawuf, sering dibaca untuk berbagai hajat dan perlindungan.
**Tradisi Nyadran atau Ruwahan** di sebagian daerah Jawa juga dilakukan bersamaan dengan peringatan Nisfu Sya'ban. Nyadran adalah tradisi membersihkan makam leluhur, mendoakan mereka, dan mengadakan kenduri bersama. Meskipun tradisi ini lebih merupakan budaya lokal, namun telah diadopsi dan diberi nuansa Islami oleh warga Nahdliyin dengan menambahkan bacaan tahlil dan doa-doa.
**Landasan Teologis Tradisi NU**
Praktik-praktik ini didasarkan pada prinsip-prinsip yang dipegang oleh kalangan Nahdliyin, yaitu mengikuti mazhab Syafi'i dalam fikih, mazhab Asy'ariyah dan Maturidiyah dalam akidah, dan mengamalkan tarekat dalam tasawuf. NU juga berpegang pada prinsip "al-muhafadhah 'ala al-qadim ash-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah" (menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik).
Dalam pandangan NU, amalan-amalan di malam Nisfu Sya'ban yang tidak memiliki dalil khusus tetap diperbolehkan selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat, berdasarkan kaidah fikih "al-ashlu fi al-af'al al-ibahah" (hukum asal dari perbuatan adalah boleh). Tradisi tahlilan, yasinan, dan berbagai amalan lainnya dianggap sebagai sarana (wasilah) untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan sebagai ibadah wajib atau sunnah yang harus dilakukan.
Ulama NU juga menekankan bahwa dalam melaksanakan amalan-amalan tersebut, niat harus benar dan tidak boleh ada unsur kesyirikan atau bid'ah yang menyimpang dari ajaran Islam. Semua amalan tersebut adalah upaya untuk mencari ridha Allah SWT dan meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan.
**Perbedaan Pandangan dalam Islam Indonesia**
Perlu dicatat bahwa tidak semua organisasi Islam di Indonesia sepakat dengan tradisi-tradisi yang dipraktikkan oleh NU dalam memperingati Nisfu Sya'ban. Muhammadiyah, misalnya, cenderung lebih hati-hati dan bahkan tidak menganjurkan peringatan khusus untuk malam ini karena menganggap tidak ada dalil yang kuat tentang keutamaan khusus malam Nisfu Sya'ban. Perbedaan ini adalah hal yang wajar dalam dinamika pemikiran Islam dan mencerminkan kekayaan khazanah intelektual umat Islam Indonesia.
Yang terpenting, apapun tradisi yang dipilih, semua bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Sikap saling menghormati dan toleran terhadap perbedaan dalam memahami dan mengamalkan ajaran agama menjadi kunci harmoni umat Islam di Indonesia.
Terlepas dari perbedaan pendapat mengenai status keutamaan malam ini, yang terpenting adalah semangat untuk memperbanyak amal saleh dan mempersiapkan diri menjelang Ramadan. Nisfu Sya'ban dapat dijadikan momentum untuk introspeksi diri, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan meningkatkan kualitas ibadah. Puasa sunah di bulan Sya'ban, misalnya, bisa menjadi latihan yang baik sebelum memasuki puasa wajib di bulan Ramadan.
Bagi sebagian orang, Nisfu Sya'ban adalah pengingat bahwa waktu terus berjalan dan kesempatan untuk berbuat baik tidak boleh disia-siakan. Malam ini mengajarkan kita untuk selalu memohon ampunan, karena tidak ada manusia yang luput dari kesalahan. Dengan hati yang tulus dan niat yang ikhlas, setiap momen dapat menjadi peluang untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Yang perlu digarisbawahi adalah pentingnya menjaga keseimbangan dalam beribadah. Praktik keagamaan hendaknya dilakukan dengan pemahaman yang benar dan tidak berlebihan. Jika seseorang ingin memperingati Nisfu Sya'ban, lakukanlah dengan cara yang sesuai dengan tuntunan syariat dan tidak menciptakan bid'ah atau praktik yang tidak ada dasarnya dalam agama.
Pada akhirnya, Nisfu Sya'ban mengingatkan kita bahwa kehidupan adalah perjalanan spiritual yang membutuhkan persiapan matang. Sama seperti bulan Sya'ban yang mengantarkan kita pada Ramadan, setiap fase kehidupan adalah kesempatan untuk bertumbuh dalam keimanan dan ketakwaan. Malam Nisfu Sya'ban, dengan segala kekhususannya, mengajak kita untuk berhenti sejenak, merenungkan perjalanan hidup kita, dan memperbarui komitmen untuk menjadi hamba yang lebih baik. Semoga amalan-amalan yang kita lakukan di malam yang penuh berkah ini diterima oleh Allah SWT dan menjadi bekal kita dalam menjalani kehidupan yang lebih baik.
---
## Daftar Referensi
**Sumber Primer:**
1. Al-Quran Al-Karim
2. Shahih Bukhari, Kitab ash-Shaum (Kitab Puasa)
3. Shahih Muslim, Kitab ash-Shiyam (Kitab Puasa)
4. Sunan Abu Daud, Kitab ash-Shaum
5. Sunan Ibnu Majah, Kitab al-Iqamah
6. Sunan at-Tirmidzi, Kitab ash-Shaum
**Kitab-Kitab Ulama Klasik:**
7. Ibnu Rajab al-Hanbali. *Latha'if al-Ma'arif fi Ma li Mawasim al-'Am min al-Wadha'if* (Penjelasan tentang Musim-Musim dalam Setahun)
8. Imam an-Nawawi. *Al-Majmu' Syarh al-Muhadzzab* (Ensiklopedia Fiqih)
9. Imam as-Suyuthi. *Al-Hawi li al-Fatawa* (Kumpulan Fatwa)
10. Ibnu Taimiyyah. *Iqtidha' ash-Shirath al-Mustaqim* (Mengikuti Jalan yang Lurus)
11. Ibnu Katsir. *Tafsir al-Quran al-Azhim* (Tafsir Ibnu Katsir)
12. Imam al-Ghazali. *Ihya' Ulumuddin* (Menghidupkan Kembali Ilmu-Ilmu Agama)
**Kitab-Kitab Rujukan NU:**
17. Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad. *Ratib al-Haddad*, Singapura: Pustaka Nasional
18. Syekh Ja'far al-Barzanji. *Maulid al-Barzanji*, berbagai penerbit
19. Syekh Abdul Qadir al-Jailani. *Al-Ghunya li Thalibi Thariq al-Haqq* (Bekal bagi Pencari Jalan Kebenaran)
20. KH. Hasyim Asy'ari. *Adab al-'Alim wa al-Muta'allim* (Etika Guru dan Murid)
21. KH. Sahal Mahfudz. *Nuansa Fiqih Sosial*, Yogyakarta: LKiS
22. KH. MA. Sahal Mahfudz. *Bahtsul Masail dan Istinbath Hukum NU*, Surabaya: Khalista
**Sumber Berbahasa Indonesia:**
23. Majelis Ulama Indonesia. *Himpunan Fatwa MUI Sejak 1975*, Jakarta: Erlangga
24. Departemen Agama RI. *Al-Quran dan Terjemahannya*, Jakarta
25. Hasbiyallah. *Fiqh Ibadah*, Bandung: Remaja Rosdakarya
26. M. Quraish Shihab. *Tafsir al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Quran*, Jakarta: Lentera Hati
27. Nasaruddin Umar. *Deradikalisasi Pemahaman al-Quran dan Hadis*, Jakarta: Elex Media Komputindo
28. Martin van Bruinessen. *NU: Tradisi, Relasi-Relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru*, Yogyakarta: LKiS
29. Andree Feillard. *NU vis-à-vis Negara*, Yogyakarta: LKiS
**Referensi tentang Tradisi NU:**
30. Ahmad Zahro. *Tradisi Intelektual NU: Lajnah Bahtsul Masa'il 1926-1999*, Yogyakarta: LKiS, 2004
31. Imam Ghazali Said & A. Ma'ruf Asrori. *Ahlusunnah wal Jama'ah: Sebuah Kritik Historis*, Surabaya: Khalista, 2010
32. KH. Achmad Siddiq. *Khittah Nahdliyyah*, Surabaya: Balai Buku, 1979
33. PWNU Jawa Timur. *Aswaja An-Nahdliyah: Ajaran Ahlussunnah wa al-Jama'ah yang Berlaku di Lingkungan Nahdlatul Ulama*, Surabaya: Khalista, 2007
**Jurnal dan Artikel Ilmiah:**
34. Ahmad Fauzi. "Tradisi Nisfu Sya'ban dalam Perspektif Hadis." *Jurnal Studi Hadis Nusantara*, Vol. 2, No. 1 (2020)
35. Muhammadiyah. "Hukum Peringatan Nisfu Sya'ban." *Majalah Suara Muhammadiyah*, Jakarta
36. Nadirsyah Hosen. "Praktik Keagamaan Islam Nusantara: Antara Tradisi dan Syariat." *Journal of Indonesian Islam*, Vol. 14, No. 2 (2020)
37. M. Bambang Pranowo. "Memahami Islam Jawa: Antara Universalisme dan Partikularisme." *Studia Islamika*, Vol. 18, No. 1 (2011)
38. Ahmad Baso. "NU dan Tradisi Tahlilan: Dinamika Ritual Keagamaan." *Jurnal Tashwirul Afkar NU*, Vol. 25 (2008)
**Website dan Sumber Digital:**
39. Islam Question and Answer (islamqa.info) - Fatwa tentang Nisfu Sya'ban
40. NU Online (nu.or.id) - Artikel tentang Nisfu Sya'ban dalam Tradisi NU
41. Muhammadiyah.or.id - Pandangan Muhammadiyah tentang Nisfu Sya'ban
42. Rumaysho.com - Artikel Kajian Hadis tentang Malam Nisfu Sya'ban
43. PBNU.or.id - Portal resmi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama
44. Nahdlatululama.id - Situs resmi NU untuk kajian keislaman