Jumat, 16 Januari 2026

Kurikulum Cinta dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti SMP Fase D: Analisis Kelebihan, Kelemahan, dan Implementasi


Pendahuluan

Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti (PAI-BP) memiliki peran strategis dalam membentuk karakter peserta didik yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kecerdasan spiritual dan emosional. Dalam Kurikulum Merdeka Fase D (kelas VII-IX SMP), muncul konsep "Kurikulum Cinta" yang menekankan pendekatan pembelajaran berbasis kasih sayang, empati, dan nilai-nilai kemanusiaan yang berlandaskan ajaran Islam. Konsep ini menjadi paradigma baru dalam mengajarkan agama, tidak semata-mata sebagai hafalan dan ritual, tetapi sebagai nilai yang menginternalisasi cinta kepada Allah, sesama manusia, dan alam semesta (Muhaimin, 2012).

Kurikulum Cinta dalam konteks PAI-BP SMP merupakan upaya transformatif untuk menjawab tantangan modernisasi yang menghadirkan krisis moral, individualisme, dan degradasi nilai-nilai kemanusiaan di kalangan remaja (Megawangi, 2004). Fase D menjadi momentum krusial karena peserta didik berada pada masa transisi dari anak-anak menuju remaja, di mana pembentukan identitas diri dan nilai moral sangat penting (Erikson, 1968).

Konseptualisasi Kurikulum Cinta dalam PAI-BP

Kurikulum Cinta dalam pembelajaran PAI-BP merujuk pada pendekatan pedagogis yang menempatkan nilai-nilai kasih sayang (rahmah) sebagai inti dari seluruh proses pembelajaran. Konsep ini berakar pada ajaran Islam tentang "rahmatan lil 'alamin" (rahmat bagi seluruh alam), di mana cinta menjadi fondasi dalam beribadah, berinteraksi sosial, dan menjalani kehidupan (Nata, 2016).

Dalam konteks Fase D, Kurikulum Cinta dioperasionalisasi melalui tiga dimensi utama: pertama, cinta vertikal (mahabbatullah) yang mengajarkan peserta didik untuk mencintai Allah melalui pemahaman mendalam tentang kebesaran-Nya, bukan karena takut semata; kedua, cinta horizontal (mahabbah li al-insan) yang menekankan empati, toleransi, dan kasih sayang terhadap sesama manusia tanpa memandang perbedaan; ketiga, cinta terhadap alam (mahabbah li al-kawn) yang mengajarkan tanggung jawab ekologis sebagai bagian dari ibadah (Daradjat, 2008).

Landasan Teoretis dan Normatif

Secara normatif, Kurikulum Cinta berlandaskan pada ayat-ayat Al-Qur'an yang menekankan kasih sayang, seperti QS. Al-Hujurat: 13 tentang keberagaman sebagai rahmat, QS. Al-Anbiya: 107 tentang Rasulullah sebagai rahmat, dan hadis-hadis Nabi yang menekankan pentingnya cinta dan kasih sayang dalam kehidupan (Al-Qur'an dan Terjemahnya, Kementerian Agama RI, 2019).

Secara teoretis, pendekatan ini sejalan dengan teori pembelajaran konstruktivisme sosial Vygotsky yang menekankan pentingnya interaksi sosial yang bermakna (Vygotsky, 1978), serta teori kecerdasan emosional Daniel Goleman yang menempatkan empati dan kesadaran sosial sebagai kompetensi krusial (Goleman, 1995). Dalam perspektif pendidikan Islam, konsep ini selaras dengan pemikiran Al-Ghazali tentang pendidikan hati (tarbiyah al-qalb) yang mendahului pendidikan akal (Al-Ghazali, 2003).

Kelebihan Kurikulum Cinta dalam Pembelajaran PAI-BP SMP

1. Humanisasi Pembelajaran Agama

Kurikulum Cinta menggeser paradigma pembelajaran PAI dari yang cenderung doktriner dan tekstual menjadi lebih humanis dan kontekstual (Freire, 2000). Peserta didik tidak lagi melihat agama sebagai seperangkat aturan yang kaku, tetapi sebagai nilai yang memberikan makna dan kebahagiaan dalam hidup. Pendekatan ini mencegah terjadinya alienasi antara nilai agama dengan kehidupan sehari-hari remaja (Mujib & Mudzakkir, 2008).

2. Pengembangan Karakter Holistik

Melalui internalisasi nilai cinta, peserta didik mengembangkan karakter yang seimbang antara dimensi kognitif, afektif, dan psikomotorik. Mereka tidak hanya memahami konsep teologis secara intelektual, tetapi juga merasakan dan mengamalkannya dalam perilaku nyata (Lickona, 1991). Hal ini sangat relevan dengan Profil Pelajar Pancasila yang menekankan akhlak mulia dan kebinekaan global (Kemendikbudristek, 2022).

3. Pencegahan Radikalisme dan Intoleransi

Pendekatan cinta yang menekankan rahmah dan toleransi menjadi benteng efektif terhadap paham-paham ekstrem yang sering menyasar generasi muda (Azra, 2002). Peserta didik belajar bahwa esensi Islam adalah kedamaian dan kasih sayang, bukan kekerasan atas nama agama. Mereka diajak untuk menghormati perbedaan sebagai sunnatullah (Shihab, 2007).

4. Meningkatkan Motivasi dan Keterlibatan Belajar

Pembelajaran yang menyenangkan dan penuh kasih sayang menciptakan iklim kelas yang kondusif. Peserta didik merasa diterima dan dihargai, sehingga lebih termotivasi untuk belajar (Deci & Ryan, 2000). Pendekatan ini mengurangi kecemasan dan tekanan psikologis yang sering dialami siswa dalam pembelajaran konvensional (Noddings, 2005).

5. Relevansi dengan Perkembangan Psikologis Remaja

Fase D (usia 13-15 tahun) adalah masa pencarian identitas dan kebutuhan akan afeksi (Santrock, 2011). Kurikulum Cinta menjawab kebutuhan psikologis ini dengan memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengekspresikan emosi, membangun relasi yang sehat, dan menemukan makna spiritual yang autentik (Yusuf, 2014).

Kelemahan dan Tantangan Implementasi

1. Ambiguitas Konseptual

Konsep "cinta" dalam konteks kurikulum masih bersifat abstrak dan multitafsir. Tanpa operasionalisasi yang jelas, guru dapat mengalami kebingungan dalam menerjemahkan konsep filosofis ini ke dalam aktivitas pembelajaran konkret (Mulyasa, 2013). Diperlukan pedoman implementasi yang lebih terstruktur dan terukur.

2. Kesenjangan Kompetensi Guru

Tidak semua guru PAI memiliki kompetensi pedagogis dan emosional untuk menerapkan Kurikulum Cinta. Banyak guru yang terbiasa dengan metode pembelajaran konvensional yang berpusat pada hafalan dan ceramah (Majid, 2014). Transformasi mindset dan upgrading kompetensi guru menjadi tantangan besar yang memerlukan investasi waktu dan sumber daya (Sanjaya, 2016).

3. Resistensi Budaya Pembelajaran

Tradisi pembelajaran PAI yang cenderung otoriter dan mengedepankan disiplin ketat dapat bertentangan dengan pendekatan Kurikulum Cinta yang lebih demokratis dan dialogis (Tilaar, 2002). Sebagian stakeholder, termasuk orang tua, mungkin menganggap pendekatan ini terlalu permisif dan tidak cukup tegas dalam menanamkan nilai-nilai agama.

4. Tantangan Asesmen

Mengukur pencapaian pembelajaran yang berbasis nilai cinta dan karakter jauh lebih kompleks dibandingkan mengukur pengetahuan kognitif. Instrumen asesmen yang ada sering kali belum mampu menangkap dimensi afektif dan spiritual secara komprehensif (Wiggins & McTighe, 2005). Diperlukan pengembangan rubrik asesmen yang lebih holistik dan autentik.

5. Keterbatasan Waktu dan Sumber Daya

Pembelajaran yang menekankan proses internalisasi nilai memerlukan waktu lebih banyak dibandingkan transfer pengetahuan. Dengan alokasi waktu PAI yang terbatas (2-3 jam pelajaran per minggu), guru menghadapi dilema antara mengejar target materi dan memfasilitasi proses penghayatan nilai secara mendalam (Tafsir, 2010).

6. Konteks Sosial yang Kontraproduktif

Lingkungan sosial peserta didik, baik di rumah maupun di media sosial, tidak selalu mendukung nilai-nilai cinta dan kasih sayang yang diajarkan di sekolah. Paparan terhadap kekerasan, ujaran kebencian, dan kompetisi yang tidak sehat dapat mengikis nilai-nilai yang ditanamkan melalui Kurikulum Cinta (Prensky, 2001).

Strategi Implementasi dalam Pembelajaran PAI-BP SMP

1. Redesain Capaian Pembelajaran dan Tujuan Pembelajaran

Guru perlu merumuskan ulang Capaian Pembelajaran (CP) dan Tujuan Pembelajaran (TP) agar mengintegrasikan dimensi cinta secara eksplisit (Anderson & Krathwohl, 2001). Misalnya, dalam materi tentang zakat, selain memahami konsep dan hukum zakat (kognitif), siswa juga diharapkan merasakan empati terhadap orang yang membutuhkan (afektif) dan tergerak untuk berbagi (psikomotorik).

2. Penerapan Metode Pembelajaran Aktif dan Afektif

Beberapa metode yang dapat diterapkan meliputi: pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) yang mengajak siswa terlibat langsung dalam kegiatan sosial (Thomas, 2000); role playing dan simulasi yang membantu siswa memahami perspektif orang lain (Sharan, 2010); circle time dan sharing session untuk berbagi pengalaman spiritual; serta pembelajaran reflektif yang mendorong siswa menghubungkan materi dengan pengalaman hidup mereka (Schön, 1983).

3. Penciptaan Lingkungan Belajar yang Penuh Kasih Sayang

Guru perlu menciptakan classroom culture yang aman secara psikologis, di mana peserta didik merasa bebas bertanya, berbeda pendapat, dan mengekspresikan perasaan tanpa takut dihakimi (Korthagen, 2004). Penggunaan bahasa yang afirmatif, penghargaan terhadap keberagaman, dan pengelolaan konflik yang konstruktif menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan belajar yang mendukung.

4. Integrasi Teknologi dan Media Kreatif

Pemanfaatan multimedia, video inspiratif, podcast dakwah yang menyejukkan, dan platform pembelajaran digital dapat membuat pembelajaran PAI lebih menarik bagi generasi Z yang merupakan digital native (Oblinger & Oblinger, 2005). Teknologi juga memungkinkan pembelajaran yang lebih personal dan sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing siswa (Tapscott, 2009).

5. Kemitraan dengan Keluarga dan Komunitas

Implementasi Kurikulum Cinta tidak dapat berjalan efektif tanpa dukungan keluarga dan masyarakat. Sekolah perlu membangun komunikasi intensif dengan orang tua, melibatkan tokoh agama lokal, dan berkolaborasi dengan organisasi masyarakat sipil untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang koheren dan saling menguatkan (Epstein, 2001).

6. Pengembangan Asesmen Autentik

Asesmen tidak hanya mengukur pengetahuan melalui tes tertulis, tetapi juga mengobservasi perubahan perilaku, menggunakan jurnal refleksi, portofolio karya siswa, penilaian sejawat, dan self-assessment (Earl, 2003). Asesmen formatif yang berkelanjutan lebih ditekankan untuk memantau perkembangan karakter siswa secara holistik (Black & Wiliam, 1998).

Contoh Konkret Penerapan dalam Materi PAI Fase D

Materi: Kasih Sayang dan Kepedulian Sosial dalam Islam

Aktivitas Pembelajaran:

  • Fase Orientasi: Siswa menonton video kisah inspiratif tentang tokoh muslim yang dikenal karena kepedulian sosialnya, kemudian mendiskusikan perasaan yang muncul dan pelajaran yang dapat diambil.
  • Fase Eksplorasi: Siswa membaca dan menganalisis ayat-ayat Al-Qur'an dan hadis tentang kasih sayang, kemudian mengidentifikasi nilai-nilai universal yang terkandung di dalamnya.
  • Fase Elaborasi: Dalam kelompok kecil, siswa merancang proyek sosial sederhana untuk membantu kelompok rentan di sekitar sekolah (misalnya: mengumpulkan buku untuk perpustakaan desa, mengunjungi panti asuhan, atau mengadakan bazar untuk penggalangan dana).
  • Fase Evaluasi: Siswa mempresentasikan proyek mereka, merefleksikan pengalaman emosional dan spiritual yang dialami, serta menulis jurnal refleksi tentang bagaimana kegiatan tersebut mengubah pandangan mereka tentang makna beribadah.

Peran Stakeholder dalam Kesuksesan Implementasi

Kesuksesan implementasi Kurikulum Cinta memerlukan sinergi berbagai pihak. Pemerintah perlu menyediakan kebijakan yang mendukung, pelatihan guru yang berkelanjutan, dan anggaran yang memadai. Kepala sekolah berperan sebagai pemimpin pembelajaran yang menciptakan visi bersama dan mendorong inovasi (Fullan, 2001). Guru PAI menjadi agen perubahan yang menginspirasi melalui keteladanan. Orang tua berperan sebagai mitra yang konsisten menerapkan nilai-nilai di rumah. Sementara siswa sendiri adalah subjek aktif yang mengonstruksi pemahaman dan mengaktualisasikan nilai cinta dalam kehidupan nyata (Dewey, 1938).

Kesimpulan

Kurikulum Cinta dalam pembelajaran PAI-BP SMP Fase D menawarkan paradigma transformatif yang menempatkan nilai kasih sayang sebagai inti dari pendidikan agama. Pendekatan ini memiliki kelebihan signifikan dalam humanisasi pembelajaran, pengembangan karakter holistik, pencegahan radikalisme, peningkatan motivasi belajar, dan kesesuaian dengan kebutuhan psikologis remaja.

Namun demikian, implementasinya menghadapi berbagai tantangan, mulai dari ambiguitas konseptual, kesenjangan kompetensi guru, resistensi budaya pembelajaran, hingga keterbatasan sumber daya. Tantangan-tantangan ini bukanlah hambatan yang tidak dapat diatasi, melainkan memerlukan strategi implementasi yang sistematis, komprehensif, dan berkelanjutan.

Keberhasilan Kurikulum Cinta bergantung pada komitmen seluruh stakeholder untuk keluar dari zona nyaman pembelajaran konvensional dan berani melakukan inovasi. Diperlukan investasi dalam pengembangan kompetensi guru, penyediaan sumber daya pembelajaran yang memadai, penciptaan ekosistem pendidikan yang mendukung, dan konsistensi dalam penerapan nilai-nilai di semua lini kehidupan.

Pada akhirnya, Kurikulum Cinta bukan semata-mata tentang metode atau teknik pembelajaran, tetapi tentang transformasi fundamental dalam cara kita memahami esensi pendidikan agama. Ketika siswa belajar agama dengan hati yang penuh cinta, mereka tidak hanya menjadi muslim yang taat secara ritualistik, tetapi menjadi manusia yang berakhlak mulia, penuh empati, dan berkontribusi positif bagi peradaban. Inilah sesungguhnya tujuan tertinggi dari pendidikan Islam yang sejati.


Daftar Pustaka

Al-Ghazali, I. (2003). Ihya Ulumuddin. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah.

Anderson, L. W., & Krathwohl, D. R. (Eds.). (2001). A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assessing: A Revision of Bloom's Taxonomy of Educational Objectives. New York: Longman.

Azra, A. (2002). Paradigma Baru Pendidikan Nasional: Rekonstruksi dan Demokratisasi. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Black, P., & Wiliam, D. (1998). Assessment and Classroom Learning. Assessment in Education: Principles, Policy & Practice, 5(1), 7-74.

Daradjat, Z. (2008). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.

Deci, E. L., & Ryan, R. M. (2000). The "What" and "Why" of Goal Pursuits: Human Needs and the Self-Determination of Behavior. Psychological Inquiry, 11(4), 227-268.

Dewey, J. (1938). Experience and Education. New York: Macmillan.

Earl, L. M. (2003). Assessment as Learning: Using Classroom Assessment to Maximize Student Learning. Thousand Oaks, CA: Corwin Press.

Epstein, J. L. (2001). School, Family, and Community Partnerships: Preparing Educators and Improving Schools. Boulder, CO: Westview Press.

Erikson, E. H. (1968). Identity: Youth and Crisis. New York: W.W. Norton & Company.

Freire, P. (2000). Pedagogy of the Oppressed (30th Anniversary Edition). New York: Continuum.

Fullan, M. (2001). Leading in a Culture of Change. San Francisco: Jossey-Bass.

Goleman, D. (1995). Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ. New York: Bantam Books.

Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Al-Qur'an dan Terjemahnya. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an.

Kemendikbudristek. (2022). Panduan Pengembangan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Korthagen, F. A. J. (2004). In Search of the Essence of a Good Teacher: Towards a More Holistic Approach in Teacher Education. Teaching and Teacher Education, 20(1), 77-97.

Lickona, T. (1991). Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. New York: Bantam Books.

Majid, A. (2014). Pembelajaran Tematik Terpadu. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Megawangi, R. (2004). Pendidikan Karakter: Solusi yang Tepat untuk Membangun Bangsa. Jakarta: Indonesia Heritage Foundation.

Muhaimin. (2012). Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Mujib, A., & Mudzakkir, J. (2008). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana Prenada Media.

Mulyasa, E. (2013). Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Nata, A. (2016). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Noddings, N. (2005). The Challenge to Care in Schools: An Alternative Approach to Education (2nd ed.). New York: Teachers College Press.

Oblinger, D. G., & Oblinger, J. L. (Eds.). (2005). Educating the Net Generation. Washington, DC: EDUCAUSE.

Prensky, M. (2001). Digital Natives, Digital Immigrants. On the Horizon, 9(5), 1-6.

Sanjaya, W. (2016). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Santrock, J. W. (2011). Life-Span Development (13th ed.). New York: McGraw-Hill.

Schön, D. A. (1983). The Reflective Practitioner: How Professionals Think in Action. New York: Basic Books.

Sharan, Y. (2010). Cooperative Learning for Academic and Social Gains: Valued Pedagogy, Problematic Practice. European Journal of Education, 45(2), 300-313.

Shihab, M. Q. (2007). Wawasan Al-Quran: Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat. Bandung: Mizan.

Tafsir, A. (2010). Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Tapscott, D. (2009). Grown Up Digital: How the Net Generation is Changing Your World. New York: McGraw-Hill.

Thomas, J. W. (2000). A Review of Research on Project-Based Learning. San Rafael, CA: Autodesk Foundation.

Tilaar, H. A. R. (2002). Perubahan Sosial dan Pendidikan: Pengantar Pedagogik Transformatif untuk Indonesia. Jakarta: Grasindo.

Vygotsky, L. S. (1978). Mind in Society: The Development of Higher Psychological Processes. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Wiggins, G., & McTighe, J. (2005). Understanding by Design (Expanded 2nd ed.). Alexandria, VA: Association for Supervision and Curriculum Development.

Yusuf, S. (2014). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar