Saat jubah
malam menutup bumi, riuh rendah aktivitas manusia menepi, menyepi, angin malam
menari-nari, penjual tahu tek-tek langgananku juga sudah tak tampak lagi, itu artinya
malam sudah mulai larut.” Kriiiing.... Kriing... “ ruangan kos-kosan dikejutkan oleh dering
telepon, teman-teman pada berebutan untuk mengangkat dengan harapan telepon itu
untuk mereka, maklum pada zaman itu telepon genggam masih belum ada, Jika ada hanya
para pengusaha atau kalangan elit yang mampu memilikinya. Meskipun letak telepon
dekat dengan kamarku, aku enggan untuk bangun, aku lebih memilih berbaringan
dalam kamar yang sumpek dan remang, sendirian sambil menerawang kelangit-langit
rumah kosan. “ Zeze... telpon buatmu.” Teriak
Isma dari luar kamar membuyarkan lamunan.
Aku bangkit dan mengangkat telepon. Assalamu’alaikum ... ucapku kepada orang
diseberang. Wa’alaikumsalam.. zeze... ini aku Ibad. Oh kamu..” jawabku. Ada apa
kok malam-malam telepon? tanyaku lagi pada Ibad yang menurutku tumben banget
tengah malam gini menelpon. Besok aku mau main ke kosanmu,” Katanya. Ah jangan kesini, besok pagi aku mau pulang kampung,
kalo kamu kesini tidak akan bertemu denganku, entar sia-sia deh kamu kesini., “
Jawabku dengan penuh keseriusan. Oh gitu.. ya tidak apa-apa.sudah dulu ya” kata
Ibad dengan penuh kecewa. Oke... assalamu’alaikum, aku mengakhiri percakapan
kami. Walaikumsalam... suara lirih dari
seberang menyahut dan aku kembali
kekamar untuk benar-benar tidur.