Selasa, 03 November 2026

Ketika Layar Lebih Memikat daripada Papan Tulis

 

Terdapat pemandangan yang kini lazim di banyak kelas: tatapan kosong, kepala bertumpu di meja, lalu tertidur. Namun, lihat anak yang sama ketika diminta membuat konten TikTok. Matanya menyala, idenya mengalir, dan ia rela mengulang rekaman belasan kali demi satu video berdurasi lima belas detik. Pertanyaannya, apakah anak-anak kita benar-benar malas, atau ada yang berubah dalam cara mereka mau berpikir?

Ini bukan soal malas, tetapi soal kebiasaan otak yang terlatih oleh ritme instan. Media sosial membiasakan anak menerima hiburan dalam hitungan detik, dengan imbalan cepat berupa tayangan, like, dan komentar. Belajar justru bekerja sebaliknya. Ia menuntut kesabaran, usaha yang tidak langsung terlihat hasilnya, dan kesediaan bingung sebelum akhirnya paham. Ketika otak terbiasa dengan imbalan instan, proses yang lambat terasa membosankan, bahkan menyiksa. Maka muncullah pikiran kosong dan rasa kantuk di kelas, sebuah bentuk "mogok" dari otak yang tidak menemukan stimulasi seperti yang biasa ia dapat di layar.

Namun kita tidak boleh berhenti pada menyalahkan anak. Ada tiga hal yang perlu kita akui bersama.

Pertama, pembelajaran kita sering terlalu pasif. Anak duduk berjam-jam mendengar ceramah dan menyalin catatan. Sementara di TikTok, mereka menjadi pencipta: menulis ide, mengambil keputusan, menyunting, dan menerima umpan balik. Anak antusias bukan karena kontennya dangkal, melainkan karena ia merasa memiliki peran dan karya.

Kedua, lingkungan di rumah ikut membentuk.Gawai sering menjadi "pengasuh" sejak kecil. Anak jarang dilatih menghadapi rasa bosan, padahal rasa bosan adalah pintu masuk kreativitas dan daya tahan berpikir. Tanpa latihan itu, wajar bila soal yang sedikit sulit langsung dihindari, atau jawabannya dicari lewat mesin pencari dan kecerdasan buatan tanpa dipahami.

Ketiga, kita sendiri, orang dewasa, ikut terjebak. Kita pun mudah tergoda gulir layar yang tak berujung. Anak meniru apa yang mereka lihat, bukan apa yang kita nasihatkan.

Lalu apa yang bisa dilakukan? Jawabannya bukan melarang total, sebab dunia digital adalah bagian dari kehidupan mereka. Antusiasme anak terhadap konten justru bisa menjadi jembatan. Guru dapat mengubah tugas menjadi proyek: menjelaskan hukum Newton lewat video pendek, membuat konten edukasi sejarah, atau mendebat isu sosial dalam format podcast. Bedanya, proses berpikirnya tetap harus dilatih. Anak harus riset, menyusun argumen, dan mempertanggungjawabkan isi karyanya. Di sisi lain, sekolah dan orang tua perlu membangun ruang tanpa gawai secara konsisten agar otak anak kembali terbiasa fokus dalam waktu yang lebih panjang.

Pada akhirnya, kemampuan berpikir adalah otot. Ia akan menguat bila dilatih dan melemah bila selalu dimanjakan. Tugas kita bukan memusuhi teknologi, melainkan memastikan anak-anak tidak hanya pandai menonton dan membuat tampilan, tetapi juga mampu memahami, menalar, dan bertahan dalam proses yang sulit. Sebab kecerdasan sejati tidak lahir dari yang instan, melainkan dari kesediaan untuk berpikir, meski terasa lama. 

Opini ini muncul saat mengingat dan melihat putri kandungku malas belajar, menghafal tapi antusias tik tok-an dan melihat fenomena anak didikku saat di kelas tampak pikirannya kosong, ngantuk hingga tertidur. Fenomena tersebut menjadi beban pikiran juga tantangan bagiku. Semoga opini tersebut dapat membantu semua guru dan khususnya bagi diriku sendiri sebagai ibu sekaligus pendidik dalam mengatasi masalah dan mengurangi beban pikiran. 

wallahu a'lam bishowab...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar