Jumat, 30 Januari 2026

Kokurikuler: Solusi Alternatif Pengganti Projek Profil Pelajar Pancasila

 Pendahuluan

Sejak diberlakukannya Kurikulum Merdeka, Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) menjadi salah satu program unggulan yang bertujuan membentuk karakter peserta didik sesuai nilai-nilai Pancasila. Namun, dalam implementasinya, banyak sekolah menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan waktu, sumber daya, hingga kesulitan dalam perencanaan dan penilaian. Muncul pertanyaan: dapatkah kegiatan kokurikuler menjadi alternatif yang efektif untuk menggantikan atau melengkapi P5?

Artikel ini mengeksplorasi potensi kokurikuler sebagai wadah pembentukan profil pelajar Pancasila, dengan menelaah kelebihan, kekurangan, serta strategi implementasinya.

Projek Profil Pelajar Pancasila dirancang sebagai pembelajaran lintas disiplin untuk mengamati dan memikirkan solusi terhadap permasalahan di lingkungan sekitar. P5 mengusung enam dimensi profil pelajar Pancasila: beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.

Di sisi lain, kegiatan kokurikuler adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk memperkuat atau menunjang kegiatan intrakurikuler, yang bertujuan mengembangkan bakat, minat, dan kepribadian peserta didik. Kegiatan ini mencakup Pramuka, PMR, Paskibra, kegiatan kesenian, olahraga, jurnalistik, dan lainnya.

Kedua program ini memiliki benang merah yang sama yaitu pengembangan kompetensi di luar pembelajaran akademik reguler, namun dengan pendekatan yang berbeda.

Mengapa Kokurikuler Berpotensi Menggantikan P5?

1. Struktur yang Sudah Mapan

Kegiatan kokurikuler telah lama menjadi bagian dari ekosistem pendidikan Indonesia. Sekolah umumnya sudah memiliki struktur organisasi, pembina, jadwal, dan mekanisme pelaksanaan yang jelas. Tidak seperti P5 yang relatif baru dan masih dalam tahap penyesuaian, kokurikuler memiliki fondasi yang kuat untuk dikembangkan.

2. Pembelajaran Kontekstual dan Berkelanjutan

Kokurikuler memberikan pengalaman belajar yang kontekstual melalui praktik langsung dan berkelanjutan sepanjang tahun ajaran. Misalnya, melalui Pramuka, siswa belajar kemandirian, gotong royong, dan kepemimpinan secara konsisten. PMR mengajarkan kepedulian sosial dan empati. Kegiatan-kegiatan ini tidak bersifat sementara seperti projek, melainkan proses pembentukan karakter jangka panjang.

3. Fleksibilitas dan Diferensiasi

Kokurikuler memungkinkan siswa memilih kegiatan sesuai minat dan bakat mereka, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna. Diferensiasi ini sejalan dengan prinsip Kurikulum Merdeka yang mengutamakan pembelajaran berpusat pada peserta didik.

4. Efisiensi Waktu dan Sumber Daya

Mengintegrasikan tujuan P5 ke dalam kokurikuler dapat menghemat waktu yang biasanya dialokasikan khusus untuk projek. Sekolah tidak perlu membuat program tambahan, cukup memperkaya dan mengarahkan kegiatan kokurikuler yang sudah ada dengan muatan nilai-nilai profil pelajar Pancasila.

Agar kokurikuler dapat efektif menggantikan P5, diperlukan strategi yang terencana dan sistematis.

1. Pemetaan Dimensi Profil ke Setiap Kegiatan

Setiap kegiatan kokurikuler perlu dipetakan untuk mengidentifikasi dimensi profil pelajar Pancasila yang dapat dikembangkan. Contohnya, Pramuka dapat fokus pada dimensi mandiri, bergotong royong, dan beriman. Kegiatan teater atau seni dapat mengembangkan dimensi kreatif dan berkebinekaan global. PMR dan relawan sosial sangat cocok untuk dimensi gotong royong dan berkebinekaan global.

2. Penyusunan Rencana Kegiatan Berbasis Profil

Pembina kokurikuler perlu menyusun rencana kegiatan yang secara eksplisit menargetkan pengembangan dimensi tertentu. Misalnya, dalam kegiatan Pramuka, bisa dirancang projek bakti sosial yang melibatkan kolaborasi dengan masyarakat lokal, sehingga mengembangkan dimensi gotong royong dan berkebinekaan global secara bersamaan.

3. Asesmen Autentik dan Reflektif

Penilaian dalam kokurikuler sebaiknya tidak hanya mengukur partisipasi, tetapi juga perkembangan karakter siswa. Guru dapat menggunakan portofolio, jurnal refleksi, observasi, dan penilaian diri untuk menilai sejauh mana siswa telah mengembangkan profil pelajar Pancasila.

4. Kolaborasi Lintas Kegiatan

Mendorong kolaborasi antar kegiatan kokurikuler dapat memperkaya pengalaman belajar. Misalnya, kegiatan jurnalistik dapat mendokumentasikan kegiatan bakti sosial PMR, sementara kelompok kesenian dapat mengadakan pentas untuk penggalangan dana. Kolaborasi ini mengembangkan kemampuan bernalar kritis, kreatif, dan bergotong royong.

5. Pelibatan Komunitas dan Stakeholder

Mengundang narasumber dari luar sekolah, berkolaborasi dengan komunitas lokal, atau mengadakan kegiatan di luar sekolah dapat memperluas perspektif siswa dan memperkuat dimensi berkebinekaan global serta kepedulian sosial.


Tantangan dan Solusinya

Meskipun potensial, pendekatan ini tidak tanpa tantangan.

Tantangan 1: Paradigma Kokurikuler Sebagai Kegiatan "Sampingan"

Banyak pihak masih memandang kokurikuler sebagai kegiatan pelengkap yang kurang penting dibanding pembelajaran akademik. Solusinya adalah melakukan sosialisasi intensif kepada semua pemangku kepentingan tentang pentingnya kokurikuler dalam pembentukan karakter dan kompetensi abad 21.

Tantangan 2: Kompetensi Pembina

Tidak semua pembina kokurikuler memiliki pemahaman yang mendalam tentang profil pelajar Pancasila. Diperlukan pelatihan dan pendampingan berkelanjutan agar pembina dapat merancang dan melaksanakan kegiatan yang berorientasi pada pengembangan profil.

Tantangan 3: Dokumentasi dan Pelaporan

Sistem dokumentasi dan pelaporan kokurikuler perlu diperbaiki agar dapat menunjukkan capaian perkembangan profil pelajar Pancasila secara terukur. Sekolah dapat mengembangkan instrumen penilaian khusus yang terintegrasi dengan rapor atau platform digital.

Tantangan 4: Keterbatasan Pilihan di Sekolah Kecil

Sekolah dengan jumlah siswa terbatas mungkin tidak dapat menyediakan banyak pilihan kokurikuler. Solusinya adalah berkolaborasi dengan sekolah lain atau komunitas sekitar, atau mengembangkan kegiatan kokurikuler berbasis projek yang dapat mengakomodasi berbagai minat.


Studi Kasus: Model Implementasi

Beberapa sekolah telah mencoba mengintegrasikan nilai-nilai karakter ke dalam kokurikuler dengan hasil yang menjanjikan. Misalnya, sebuah SMP di Yogyakarta mengintegrasikan P5 tema "Kearifan Lokal" ke dalam kegiatan kokurikuler karawitan dan tari tradisional. Siswa tidak hanya belajar seni, tetapi juga meneliti sejarah dan filosofi budaya Jawa, serta mengadakan pertunjukan untuk komunitas. Hasilnya, siswa menunjukkan peningkatan signifikan dalam dimensi berkebinekaan global dan kreatif.


Contoh lain, sebuah SMP di Lamongan mengintegrasikan tema "Gaya Hidup Berkelanjutan" ke dalam kokurikuler kelompok pecinta alam dan komunitas zero waste. Siswa melakukan riset, kampanye, dan aksi nyata di sekolah dan masyarakat. Pendekatan ini berhasil mengembangkan dimensi bernalar kritis, kreatif, dan bergotong royong secara simultan.


Kesimpulan

Kokurikuler memiliki potensi besar untuk menjadi alternatif atau bahkan pengganti Projek Profil Pelajar Pancasila jika dirancang dan dilaksanakan dengan strategi yang tepat. Keunggulan kokurikuler terletak pada struktur yang sudah mapan, pembelajaran berkelanjutan, dan fleksibilitas yang tinggi. Namun, keberhasilannya bergantung pada komitmen sekolah untuk mengubah paradigma, meningkatkan kompetensi pembina, dan mengembangkan sistem asesmen yang autentik.

Dengan mengintegrasikan nilai-nilai profil pelajar Pancasila ke dalam kokurikuler, sekolah tidak hanya dapat memenuhi tuntutan kurikulum, tetapi juga memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna dan berkelanjutan bagi peserta didik. Kokurikuler bukan lagi sekadar kegiatan tambahan, melainkan wahana strategis untuk membentuk generasi Indonesia yang berkarakter Pancasila.

---

**Catatan:** Implementasi pendekatan ini sebaiknya disesuaikan dengan konteks dan kebutuhan masing-masing sekolah, serta tetap mempertimbangkan regulasi yang berlaku dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.


Sumber refrensi 

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Panduan Pengembangan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Jakarta: Kemendikbudristek.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Keputusan Kepala BSKAP Nomor 008/H/KR/2022 tentang Capaian Pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah pada Kurikulum Merdeka. Jakarta: Kemendikbudristek.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2021). Permendikbudristek Nomor 5 Tahun 2022 tentang Standar Kompetensi Lulusan pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah. Jakarta: Kemendikbudristek.

Direktorat Sekolah Dasar, Kemendikbudristek. (2022). Panduan Pembelajaran dan Asesmen Kurikulum Merdeka. Jakarta: Kemendikbudristek.

Marzuki, M., & Basariah, B. (2021). "Implementasi Pendidikan Karakter melalui Kegiatan Ekstrakurikuler di Sekolah." Jurnal Pendidikan Karakter, 11(1), 45-58.

Wijaya, E. Y., Sudjimat, D. A., & Nyoto, A. (2016). "Transformasi Pendidikan Abad 21 sebagai Tuntutan Pengembangan Sumber Daya Manusia di Era Global." Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika, 1, 263-278.

Lickona, T. (2012). Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. New York: Bantam Books.

Supriatna, M. (2020). Pendidikan Karakter di Era Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Dewantara, J. A., Hermawan, Y., Yunus, D., Prasetiyo, W. H., Efriani, Arifiyanti, F., & Nurgiansah, T. H. (2021). "Anti-Corruption Education as an Effort to Form Students with Character Humanist and Law-Compliant." Jurnal Civics: Media Kajian Kewarganegaraan, 18(1), 70-81.

Rachmawati, I., & Suyanto, S. (2022). "Pengembangan Model Pembelajaran Berbasis Proyek untuk Penguatan Profil Pelajar Pancasila." Jurnal Inovasi Pendidikan, 8(2), 112-125.

Safitri, N. A., & Wulandari, D. (2022). "Peran Kegiatan Ekstrakurikuler dalam Membentuk Karakter Siswa di Era Digital." Jurnal Pendidikan Indonesia, 3(5), 428-439.

Nugroho, A., & Puspitasari, E. (2023). "Integrasi Nilai-Nilai Pancasila dalam Kegiatan Kokurikuler sebagai Alternatif Pendidikan Karakter." Jurnal Civic Education, 7(1), 23-35.

Sumber Digital dan Platform Resmi

Platform Merdeka Mengajar. https://guru.kemdikbud.go.id/ (diakses 30 Januari 2026)

Pusat Kurikulum dan Pembelajaran, Kemendikbudristek. Sumber Belajar Kurikulum Merdeka. https://kurikulum.kemdikbud.go.id/ (diakses 30 Januari 2026)

Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar dan Menengah. Panduan Implementasi Kurikulum Merdeka. https://ditpsd.kemdikbud.go.id/ (diakses 30 Januari 2026)