Selasa, 20 Januari 2026

Esai Puisi untuk Sumatera

 SUMATERA MENANGIS

Di tanah yang pernah hijau membentang, kini asap mengepul menutupi langit. Sumatera, pulau yang dahulu menjadi mahkota khatulistiwa, kini menangis dalam sunyi. Air matanya mengalir lewat sungai-sungai yang tercemar, menggenang di rawa-rawa yang terbakar, menetes dari mata anak-anak orangutan yang kehilangan ibu mereka.

Sumatera menangis bukan karena lemah, melainkan karena luka yang terlalu dalam. Setiap pohon yang tumbang adalah tangisan. Setiap hektar hutan yang berubah menjadi perkebunan monokultur adalah ratapan. Setiap harimau yang mati terjerat adalah isak yang tertahan di kerongkongan bumi.

Aku ingat cerita nenek tentang hutan yang begitu lebat hingga siang hari terasa seperti senja. Tentang gajah-gajah yang berkeliaran dengan tenang, tentang burung-burung yang bernyanyi di setiap dahan. Kini, cerita itu hanya tinggal cerita—warisan yang nyaris punah seperti badak sumatera yang tersisa puluhan ekor[1]. 

Pembangunan, kata mereka. Kemajuan, kata mereka. Tapi kemajuan macam apa yang dibangun di atas puing-puing kehidupan? Ekonomi yang tumbuh di atas tanah yang terbakar? Kesejahteraan yang dihitung dari jumlah ekspor sawit, sementara masyarakat adat kehilangan tanah leluhur mereka?

Sumatera menangis ketika melihat anak-anaknya terpaksa menghirup asap setiap musim kemarau. Ketika sekolah-sekolah diliburkan bukan karena hari raya, tapi karena Indeks Standar Pencemar Udara melampaui batas aman. Ketika ibu-ibu hamil melahirkan bayi dengan gangguan pernapasan. Ini bukan lagi sekadar isu lingkungan—ini krisis kemanusiaan yang nyata, seperti yang terjadi pada tahun 2015 ketika kabut asap melanda hingga 40 juta orang terdampak[2].

Air mata Sumatera juga mengalir lewat Danau Toba yang semakin surut, lewat Sungai Musi yang berwarna cokelat pekat, lewat pantai-pantai yang dipenuhi sampah plastik. Setiap elemen alam di pulau ini merasakan derita yang sama: eksploitasi tanpa henti, keserakahan tanpa batas.

Namun yang paling menyakitkan adalah ketika Sumatera menangis sendirian. Tangisannya tidak terdengar di ruang-ruang rapat pemerintahan. Tidak sampai ke telinga para pengambil keputusan yang sibuk menghitung profit dan margin. Tidak menyentuh hati konsumen global yang menikmati produk sawit tanpa pernah bertanya muasalnya.

Apakah mereka sadar bahwa Pulau itu terluka, Belantaranya  berasap, juga menggundul. Tuan tanah dan pekebun kehilangan sawah dan kebun. Tanpa solusi pasti dan mungkin hanya janji dari aparat yang merasakan untung, Tanpa peduli Sumatera buntung

Tapi dengarkan baik-baik. Di balik tangisan itu, tenyata ada harapan. Ada komunitas-komunitas lokal yang gigih menjaga hutan adat. Ada anak-anak muda yang turun ke jalan menuntut keadilan iklim. Ada orangutan yang bertahan hidup di kantong-kantong hutan yang tersisa. Masih ada harimau yang mengaum di malam hari, mengingatkan kita bahwa mereka belum menyerah.

Sumatera menangis, ya. Tapi tangisan itu juga adalah panggilan. Panggilan untuk sadar, untuk peduli, untuk bertindak. Sebelum terlambat. Sebelum tangisan itu berubah menjadi keheningan abadi. Sebelum Sumatera tidak lagi menangis—bukan karena lukanya sembuh, tapi karena ia sudah tidak punya lagi air mata untuk ditumpahkan.

Maka dengarkanlah tangisan Sumatera. Karena ketika pulau ini menangis, kita semua yang kehilangan. Kehilangan aset geologis, ekonomis dan sosial budaya. 

Sumatera menangis : akankah kita  membiarkan tangisan itu terus mengalir, ataukah kita akan mengusap air mata itu dengan tindakan nyata, dengan komitmen untuk menjaga dan merawat pulau yang telah menjadi ibu bagi jutaan jiwa ?

Jawaban ada di tangan kita semua


CATATAN KAKI

[1]: Menurut data dari Global Forest Watch, Sumatera telah kehilangan lebih dari 7 juta hektar hutan primer antara tahun 2002-2019, dengan perkebunan kelapa sawit menjadi salah satu penyebab utama deforestasi. Kebakaran hutan dan lahan gambut yang terjadi hampir setiap tahun, terutama pada 2015 dan 2019, telah melepaskan emisi karbon dalam jumlah besar dan menyebabkan krisis asap regional.

[2]: Hilangnya habitat telah menempatkan satwa endemik Sumatera dalam kategori kritis. Orangutan Sumatera (Pongo abelii) dan Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) diklasifikasikan sebagai Critically Endangered oleh IUCN. Begitu pula dengan Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang populasinya diperkirakan tersisa kurang dari 400 ekor di alam liar, serta Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) yang terus mengalami konflik dengan manusia akibat fragmentasi habitat.