Puisi menjadi medium perlawanan ketika kata-kata lain tak lagi cukup kuat. Ketika data statistik tentang deforestasi hanya menjadi angka dingin di atas kertas, ketika laporan ilmiah terkubur dalam jargon akademis yang jauh dari jangkauan masyarakat, puisi hadir sebagai jembatan. Ia menerjemahkan luka sosial menjadi bahasa emosi yang bisa menembus dinding-dinding ketidakpedulian.
Dalam tradisi sastra Indonesia, puisi selalu menjadi corong perlawanan¹. Dari Chairil Anwar yang berteriak "Aku ini binatang jalang" hingga Wiji Thukul yang menulis "Hanya ada satu kata: Lawan!", penyair telah membuktikan bahwa kata-kata bisa menjadi peluru tanpa mesiu, bisa menggugah tanpa kekerasan. Kini giliran kita menyuarakan tangis Sumatera—tangis bumi yang terluka oleh keserakahan tanpa batas.
Hutan-hutan dijadikan perkebunan sawit yang membentang sejauh mata memandang². Orangutan kehilangan rumah, harimau terpojok di sudut-sudut hutan yang tersisa. Air sungai yang dulu jernih kini kehitaman, membawa racun ke laut tempat ikan-ikan nelayan berenang. Petani gurem kehilangan tanah warisan leluhur, dijanjikan kesejahteraan yang tak pernah tiba. Ini adalah luka sosial yang dalam, luka yang berdarah namun tak terlihat di permukaan.
Maka puisi menjadi saksi. Ia mencatat setiap isak tangis yang tak terdengar, setiap doa yang terlupakan, setiap harapan yang mati sebelum sempat tumbuh. Puisi tidak hanya menghibur—ia menggugat. Ia bertanya dengan lantang: "Sampai kapan kita akan menjadi penonton dalam tragedi ini?"
Cintai bumi kembali, seruan itu bukan sekadar imbauan romantis. Ia adalah tuntutan konkret: hentikan penebangan liar, pulihkan ekosistem yang rusak, kembalikan hak-hak masyarakat adat atas tanah mereka. Cinta pada bumi berarti keberanian untuk melawan sistem yang mengeksploitasi, keberanian untuk memilih keberlanjutan di atas keuntungan sesaat.
Puisi mengajarkan kita bahwa perlawanan tidak selalu harus keras dan penuh amarah. Perlawanan bisa lembut namun tajam, puitis namun politis. Ketika kita menulis tentang pohon terakhir yang tumbang, kita sedang menulis tentang peradaban yang kehilangan akar. Ketika kita menulis tentang sungai yang tercemar, kita sedang menulis tentang masa depan anak cucu yang terancam.
Di setiap bait yang kita tulis, ada tuntutan keadilan yang tersirat. Di setiap metafora yang kita rangkai, ada kritik terhadap kekuasaan yang abai. Puisi menjadi arsip perlawanan, dokumentasi panjang tentang bagaimana sebuah generasi mencoba menyelamatkan apa yang hampir punah. Ia adalah warisan untuk mereka yang akan datang, bukti bahwa kita tidak diam dalam menghadapi kehancuran. Lewat puisi, suara yang dibungkam menemukan ruang, dan harapan yang hampir padam kembali menyala. Dalam setiap pembacaan puisi di ruang publik, kesadaran ekologis tumbuh, membangun solidaritas kolektif melawan penghancuran sistematis terhadap alam³. Puisi adalah pisau bermata dua: merobek kebohongan, merajut harapan baru.
Sumatera menangis, tetapi tangisnya bukan akhir dari segalanya. Tangis bisa menjadi awal kesadaran, titik balik dari kerusakan menuju pemulihan. Dan puisi—medium perlawanan kita—akan terus menyuarakan luka sosial ini sampai bumi kembali tersenyum, sampai Sumatera berhenti menangis.
Catatan Kaki:
¹ Dalam konteks sejarah sastra Indonesia, puisi telah menjadi alat perlawanan sejak masa kolonial hingga era reformasi. Puisi-puisi Angkatan 45, misalnya, tidak hanya berbicara tentang kemerdekaan politik tetapi juga kemerdekaan berpikir dan bertindak. Tradisi ini berlanjut dalam puisi-puisi kontemporer yang mengangkat isu lingkungan dan keadilan sosial sebagai bentuk resistensi terhadap ketidakadilan sistemik. Lihat: Rosidi, Ajip. Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia. Bandung: Binacipta, 1976, hlm. 89-103.
² Sumatera telah kehilangan lebih dari 50% tutupan hutan aslinya dalam lima dekade terakhir, terutama akibat konversi lahan untuk perkebunan kelapa sawit dan akasia. Kebakaran hutan dan lahan gambut yang terjadi hampir setiap tahun, khususnya krisis asap tahun 2015 dan 2019, mengakibatkan jutaan hektare hutan musnah, ratusan ribu orang mengalami gangguan pernapasan, dan kerugian ekonomi mencapai miliaran dolar. Satwa endemik seperti harimau sumatera, orangutan, dan gajah sumatera terancam punah karena hilangnya habitat alami mereka. Data dari: Margono, B.A., et al. "Primary forest cover loss in Indonesia over 2000–2012." Nature Climate Change, 4 (2014): 730-735, hlm. 731-733; World Bank. The Cost of Fire: An Economic Analysis of Indonesia's 2015 Fire Crisis. Jakarta: World Bank, 2016, hlm. 12-28; IUCN Red List of Threatened Species, diakses pada 2024.
³ Kerridge, Richard. "Ecocritical Readings." In The Cambridge Companion to Literature and the Environment, edited by Louise Westling, 136-152. Cambridge: Cambridge University Press, 2014, hlm. 142-145.
