Hujan datang bukan sebagai bisikan lembut di jendela, melainkan sebagai teriakan langit yang tak tertahankan. Ia menghantam bumi dengan amarah yang telah lama terpendam di awan-awan gelap, memecah keheningan sore dengan dentuman yang membuat jantung berdebar. Setiap tetes adalah peluru air yang jatuh tanpa ampun, menari-nari liar di atas genteng, memukul dedaunan hingga merunduk pasrah, mengubah jalanan menjadi sungai-sungai kecil yang mengalir tanpa tujuan.
Dan angin—oh, angin yang datang sebagai sahabat karib hujan—ia berputar dengan kemarahan yang sama. Ia melolong menembus celah-celah pintu, merobek tirai dengan tangan tak kasatmata, menggoyangkan pepohonan hingga akar-akarnya seolah ingin lepas dari pelukan tanah. Angin ini bukan sekadar hembusan udara; ia adalah roh yang gelisah, yang mencari sesuatu di tengah badai, yang berteriak dalam bahasa yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang berani mendengarkan ketakutan mereka sendiri.
Bersama-sama, hujan dan angin menciptakan simfoni kekacauan yang paradoks: menakutkan namun memesona, merusak namun menyucikan. Mereka mengingatkan kita bahwa alam tidak selalu hadir sebagai pemandangan yang tenang di kartu pos. Kadang ia datang sebagai pengingat akan kekuatan yang jauh melampaui kendali manusia, sebagai manifestasi dari emosi bumi yang tak terucapkan—amarah, kesedihan, atau mungkin hanya keinginan untuk melepaskan segala yang terpendam.
---
**BADAI**
Langit merobek jubahnya sendiri,
Menuangkan segala luka yang tersimpan
Dalam ribuan jarum air yang menusuk bumi.
Hujan ini bukan embun pagi yang lembut—
Ia adalah tangis yang terlalu lama ditahan,
Adalah amarah yang mencari pembenaran.
Angin datang sebagai penari gila,
Memutar, merobek, meruntuhkan
Segala yang berdiri dengan angkuh.
Ia melolong di setiap sudut sunyi,
Membawa pesan dari ujung dunia
Tentang hal-hal yang tak dapat kita pahami.
Pepohonan membungkuk dalam sujud paksa,
Ranting-ranting patah seperti tulang rapuh,
Dedaunan beterbangan seperti burung tanpa arah.
Sementara di jalan, air berlari tanpa henti,
Membawa segala yang pernah kita buang—
Sampah, kenangan, harapan yang luntur.
Di balik jendela yang berembun,
Aku berdiri sebagai penonton kecil
Di teater agung milik alam.
Ada ketakutan, ya, dalam dada ini,
Tapi juga kagum yang membisu—
Karena badai ini lebih jujur
Daripada semua kata yang pernah kuucapkan.
Hujan lebat mengajarkan tentang pelepasan,
Angin kencang berbisik tentang perubahan.
Bersama mereka mengingatkan:
Bahwa kadang kita harus hancur dulu
Sebelum bisa utuh kembali,
Bahwa kadang langit harus menangis
Agar bumi bisa tersenyum lagi.
Dan ketika badai mereda,
Ketika hujan menjadi rintik yang malas,
Ketika angin tertidur dalam kelelahan—
Akan ada pelangi, mungkin,
Atau sekadar udara yang lebih bersih,
Dan kita yang selamat dari gempuran malam,
Berdiri sedikit lebih kuat dari kemarin.
---
Di tengah gempuran ini, kita yang berlindung di dalam rumah menjadi saksi yang tak berdaya sekaligus takjub. Kita menatap melalui jendela yang berembun, melihat dunia di luar berubah menjadi lanskap yang asing—kabur, basah, dan bergolak. Namun ada kedamaian aneh dalam kekacauan ini, semacam katarsis kolektif ketika langit mencurahkan segala bebannya dan bumi menerimanya dengan lapang dada.
Hujan lebat dan angin kencang adalah pengingat bahwa kehidupan tidak selalu tentang ketenangan. Kadang kita membutuhkan badai untuk membersihkan udara yang pengap, untuk menggoyangkan fondasi yang rapuh, untuk memaksa kita menyadari betapa kecilnya kita di hadapan alam semesta. Dan ketika badai itu berlalu—karena ia pasti akan berlalu—yang tersisa adalah bumi yang basah dan segar, langit yang mulai cerah, dan kita yang menjadi sedikit lebih bijak tentang tempat kita di dunia ini.