Sabtu, 17 Januari 2026

ESAI : Jerat Ganda dalam Genggaman Digital

 

Di era ketika jarak ditaklukkan oleh sinyal internet, muncul fenomena yang menggerogoti sendi-sendi kehidupan masyarakat: judi online dan riba. Keduanya hadir dengan wajah modern, terbungkus dalam aplikasi yang menarik, namun menyimpan kehancuran yang sama tuanya dengan sejarah peradaban manusia.

Judi online datang dengan janji-janji manis: kemenangan cepat, kekayaan instan, hiburan tanpa batas. Cukup dengan sentuhan jari, seseorang bisa mempertaruhkan seluruh masa depannya. Tidak perlu lagi ke kasino mewah atau tempat gelap di sudut kota. Cukup di kamar tidur, di perjalanan pulang, bahkan di tengah waktu kerja—judi kini hadir dalam genggaman.

Sementara itu, riba menjelma dalam berbagai bentuk yang semakin canggih. Pinjaman online dengan bunga mencekik, kartu kredit yang menjerat, investasi bodong yang menjanjikan keuntungan tidak masuk akal. Semua menawarkan solusi cepat bagi kesulitan finansial, namun justru menenggelamkan korbannya lebih dalam ke jurang kemiskinan.

 Genggaman Digital

Di balik layar yang bercahaya terang
Tersembunyi jerat yang menganga
Jari-jari menari di atas kaca
Mempertaruhkan esok yang fana
"Coba sekali lagi," bisik setan halus
"Kemenangan sudah di depan mata"
Namun yang tersisa hanya tangis dan nestapa
Ketika rumah tangga mulai runtuh dan hancur
Riba datang dengan wajah penolong
Menawarkan jalan keluar yang mudah
Tapi bunganya yang berbunga
Mencengkeram leher hingga sesak napas
Oh, manusia yang lalai
Terjerat oleh godaan sesaat
Lupa bahwa rezeki yang barokah
Datang dari keringat yang halal

Judi dan riba, meski berbeda bentuk, memiliki esensi yang sama: mengambil keuntungan tanpa kerja produktif, membangun harapan di atas ketidakpastian, dan menciptakan ketergantungan yang merusak. Keduanya bermain dengan psikologi manusia—keserakahan, ketakutan, dan harapan palsu.

Dalam judi online, algoritma dirancang untuk membuat pemain terus kembali. Kemenangan kecil di awal menciptakan euforia, sementara kekalaman demi kekalahan dipandang sebagai "hampir menang"—sebuah ilusi yang membuat orang terus mencoba. Data menunjukkan bahwa mayoritas penjudi online mengalami kerugian finansial yang signifikan, dengan banyak yang berujung pada kebangkrutan.

Begitu pula riba, yang awalnya tampak menolong, namun bunganya yang berbunga menciptakan lingkaran setan yang tak berujung. Seseorang yang meminjam untuk kebutuhan mendesak, tiba-tiba harus membayar dua kali lipat, tiga kali lipat, bahkan lebih. Utang yang semula Rp 1 juta bisa membengkak menjadi Rp 5 juta dalam hitungan bulan.

Di balik maraknya judi online dan riba, terdapat krisis yang lebih dalam: krisis spiritual dan moral masyarakat. Ketika nilai-nilai kesabaran, kerja keras, dan kejujuran mulai pudar, digantikan oleh budaya instan dan materialisme, maka judi dan riba menemukan lahan subur untuk tumbuh.

Masyarakat yang tertekan secara ekonomi, ditambah dengan minimnya literasi keuangan, menjadi target empuk. Iklan-iklan menyesatkan yang menjanjikan kekayaan cepat, testimoni palsu, dan bonus-bonus menggiurkan menjadi umpan yang efektif.

        Luka yang Menganga

Berapa banyak istri yang menangis dalam diam
Ketika suami pulang dengan tangan hampa
Uang belanja lenyap dalam taruhan maya
Anak-anak bertanya, "Kapan kita makan, Ayah?"
Berapa banyak pemuda kehilangan masa depan
Tenggelam dalam ilusi jackpot dan kemenangan
Waktu terbuang, mimpi terkubur
Hidup hanya berputar di roda kemujuran
Dan berapa banyak keluarga tercerai-berai
Karena lilitan utang yang tak terbayar
Rentenir digital mengetuk pintu setiap hari
Mengancam, mempermalukan, menghancurkan harga diri
Ini bukan sekadar angka statistik
Ini adalah luka nyata yang menganga
Di jantung masyarakat kita
Di tengah keluarga yang dulu bahagia

Yang paling menyedihkan, korban judi online dan riba bukanlah hanya individu yang terlibat langsung. Keluarga hancur ketika ayah atau ibu menghabiskan uang belanja untuk berjudi. Anak-anak kehilangan masa depan ketika biaya pendidikan tergerus utang riba.

Istri yang harus menanggung malu karena didatangi debt collector. Anak yang putus sekolah karena uang SPP dipakai untuk membayar bunga pinjaman. Orang tua yang sakit tidak bisa berobat karena tabungan habis untuk menutupi utang anak yang kecanduan judi online.

Masyarakat pun terkikis, karena produktivitas menurun dan nilai-nilai gotong royong digantikan oleh mentalitas instan dan spekulatif. Kriminalitas meningkat karena orang-orang yang terlilit utang nekat melakukan tindakan ilegal untuk membayar hutang.

Pelaku judi online dan pinjol ilegal menggunakan berbagai strategi untuk menjerat korban:

  1. Promosi Agresif: Menggunakan selebriti, influencer, dan iklan masif di media sosial
  2. Bonus Menarik: Memberikan bonus deposit awal untuk menarik pemain baru
  3. Kemudahan Akses: Tidak memerlukan verifikasi ketat, cukup KTP dan selfie
  4. Psikologi Manipulatif: Menggunakan notifikasi, reward system, dan FOMO (Fear of Missing Out)
  5. Normalisasi: Membuat judi dan hutang tampak sebagai hal yang normal dan dapat diterima

          Bangkit dari Kehancuran

Namun di tengah kegelapan yang pekat
Masih ada cahaya harapan yang menyala
Dari mereka yang bangkit dari keterpurukan
Memilih jalan taubat dan perjuangan
Tidak mudah melepas belenggu kecanduan
Melawan godaan yang terus berbisik
Tapi dengan tekad yang kuat dan iman yang teguh
Satu demi satu rantai dapat dipatahkan
Keluarga yang hampir hancur
Bisa dibangun kembali dengan kesabaran
Utang yang menumpuk
Dapat dilunasi dengan kerja keras dan disiplin
Inilah kisah para pejuang sejati
Yang memilih jalan terjal namun bermartabat
Yang memilih keringat halal
Daripada harta haram yang melimpah

Semua agama besar di Indonesia—Islam, Kristen, Hindu, Buddha—secara tegas melarang judi dan riba. Dalam Islam, keduanya termasuk dalam dosa besar yang dapat menghapus keberkahan hidup. Dalam ajaran Kristen, riba yang mencekik bertentangan dengan prinsip kasih dan keadilan. Hindu dan Buddha mengajarkan tentang karma dan akibat dari perbuatan yang merugikan orang lain.

Budaya nusantara pun sebenarnya menjunjung tinggi nilai-nilai gotong royong, kejujuran, dan kerja keras. Pepatah "berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian" mengajarkan bahwa kesuksesan memerlukan perjuangan dan pengorbanan, bukan keberuntungan instan.

Melawan dengan Kesadaran dan Tindakan Nyata

Perlawanan terhadap judi online dan riba bukan hanya tugas pemerintah atau lembaga agama. Ini adalah tanggung jawab setiap individu untuk membangun kesadaran diri dan keluarga. Beberapa langkah konkret yang dapat dilakukan:

Tingkat Individu dan Keluarga:

  • Membangun literasi keuangan sejak dini
  • Mengajarkan anak tentang nilai uang dan pentingnya menabung
  • Menghindari gaya hidup konsumtif dan membandingkan diri dengan orang lain
  • Membangun komunikasi terbuka dalam keluarga tentang kondisi finansial
  • Mencari bantuan profesional jika sudah terlanjur kecanduan

Tingkat Masyarakat:

  • Kampanye kesadaran tentang bahaya judi online dan riba
  • Membentuk kelompok dukungan bagi korban
  • Melaporkan situs judi ilegal dan pinjol tanpa izin
  • Mendukung program-program pemberdayaan ekonomi masyarakat

Tingkat Pemerintah:

  • Penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku
  • Pemblokiran situs judi ilegal
  • Regulasi ketat terhadap fintech dan pinjaman online
  • Pendidikan keuangan sebagai bagian dari kurikulum sekolah

Kita perlu kembali pada prinsip dasar: bahwa kekayaan sejati dibangun melalui kerja keras, kesabaran, dan keberkahan—bukan melalui jalan pintas yang justru menghancurkan. Bahwa kebahagiaan tidak terletak pada harta yang melimpah dalam sekejap, melainkan pada ketenangan hati yang diperoleh melalui usaha yang halal dan berkah.

     Jalan Terang yang Kita Pilih

Mari kita tutup pintu-pintu kegelapan
Yang dibuka oleh teknologi tanpa kebijaksanaan
Mari kita ajari anak-anak kita
Bahwa kesuksesan sejati memerlukan pengorbanan
Tidak ada jalan pintas menuju kebahagiaan
Tidak ada kekayaan instan yang membawa berkah
Yang ada hanyalah kerja, doa, dan ikhtiar
Serta tawakal kepada Yang Maha Memberi Rezeki
Biarlah keringat kita yang berbicara
Tentang perjuangan dan pengabdian
Biarlah tangan kita yang kotor oleh kerja
Menjadi saksi kejujuran dan kehormatan
Karena di akhir perjalanan hidup ini
Yang dipertanyakan bukanlah seberapa besar harta kita
Melainkan dari mana harta itu datang
Dan untuk apa ia kita gunakan
Judi dan riba adalah jalan yang keliru
Menuju kehancuran yang pasti
Sementara kerja keras dan kejujuran
Adalah jalan menuju kemuliaan yang abadi

Banyak kisah nyata dari mereka yang berhasil bangkit dari jeratan judi online dan riba. Kisah-kisah ini bukan untuk menghakimi, melainkan untuk memberi harapan bahwa perubahan itu mungkin.

Ada yang dulu kehilangan rumah, mobil, dan hampir kehilangan keluarga, namun kini menjadi motivator yang membantu orang lain keluar dari kecanduan. Ada yang dulu terlilit utang ratusan juta, namun dengan tekad kuat dan dukungan keluarga, berhasil melunasi semuanya dalam beberapa tahun.

Mereka semua memiliki kesamaan: kesadaran untuk berubah, keberanian mengakui kesalahan, dan komitmen untuk tidak kembali ke jalan yang keliru.

Di tengah gempuran teknologi yang membawa judi dan riba semakin dekat ke kehidupan kita, kita memiliki pilihan: menjadi korban atau menjadi pribadi yang berdaya. Layar ponsel bisa menjadi jendela pengetahuan atau jurang kehancuran—semuanya tergantung pada pilihan kita.

Mari kita jadikan teknologi sebagai alat untuk membangun, bukan menghancurkan. Mari kita tolak godaan keuntungan instan yang menipu, dan memilih jalan perjuangan yang mungkin lebih panjang, namun pasti lebih bermakna dan membawa berkah bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.

Pendidikan, kesadaran, dan tindakan nyata adalah kunci untuk melawan epidemi judi online dan riba di era digital ini. Setiap individu memiliki peran penting dalam perlawanan ini—sebagai orang tua yang melindungi anak, sebagai pendidik yang memberi pemahaman, sebagai teman yang mengingatkan, dan sebagai warga negara yang bertanggung jawab.

       Sumpah Kita Bersama

Hari ini kita bersumpah
Untuk melindungi keluarga dari jerat digital
Untuk mendidik generasi muda
Tentang nilai kerja keras dan kejujuran
Hari ini kita berkomitmen
Untuk tidak tergoda oleh janji-janji palsu
Untuk tidak tergiur oleh kekayaan sesaat
Yang membawa kehancuran selamanya
Hari ini kita memilih
Jalan yang terang meski berliku
Jalan yang terjal meski mulia
Jalan yang panjang meski penuh berkah
Karena pada akhirnya, kehidupan yang sejati
Bukan diukur dari seberapa cepat kita kaya
Melainkan seberapa bermakna jejak yang kita tinggalkan
Untuk anak cucu kita kelak
Dan semoga, ketika saatnya tiba
Kita dapat berkata dengan bangga:
"Aku telah memilih jalan yang benar
Aku telah mewariskan kehormatan, bukan hutang
Aku telah memberi teladan, bukan luka
Aku telah hidup dengan bermartabat"
Itulah warisan terbesar
Yang dapat kita tinggalkan
Bukan harta yang melimpah dari jalan haram
Melainkan nama baik dan doa anak cucu
Yang akan terus mengalir
Hingga akhir zaman

Epilog

Judi online dan riba adalah ujian zaman. Ujian tentang ketahanan iman, kekuatan moral, dan kebijaksanaan dalam menggunakan teknologi. Generasi kita memiliki tanggung jawab besar untuk tidak hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga generasi mendatang dari bahaya yang mengancam ini.

Mari kita jadikan esai dan puisi ini bukan sekadar bacaan, melainkan panggilan untuk bertindak. Mulai dari diri sendiri, dari keluarga kita, dari lingkungan terdekat kita. Karena perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang konsisten.

Semoga kita semua diberi kekuatan untuk memilih jalan yang benar, dan diberi keberkahan dalam setiap langkah perjalanan hidup kita. Amin.